Caleg Lampung Ini Pernah Hidup Miskin dulunya, Tapi Sekarang...
Anonymous
Lampung
"Doktrin itu sebagaimana kita mengucap dua kalimat syahadat, kira-kira begitu," kena Ilham yang kini menjadi founder rilis.id, yang kini juga punya markas di Lampung.
Kini Ilham hidup di Jakata, berkarir, dikelilingi profesional, sampai keliling mancanegara. Tapi, dia tak akan pernah lupa menjadi seorang yang miskin dulunya.
"Kata-kata itu menjadi objek yang saya rasakan sendiri. Tidur di kampung tanpa listrik, mandi di kali. Bukan cerita novel, saya benar-benar mengalaminya," paparnya.
Kalaupun tadinya ada niat dia menjadi calon legislatif (caleg) DPR RI sepersekian persen untuk berkuasa, maka ketika itulah semuanya luluh lantak. Ia ikhlas kalah.
"Saya punya masa lalu yang satu frekuensi dengan warga miskin lainnya. Saya tidak punya cara lain untuk membalasnya. Selain bersama mereka untuk berjuang," tekadnya.
Soal politik adalah hal yang sedikit berbeda. Dalam setiap pertemuannya dengan warga dan berdialog, selalu ada kata yang sama dalam setiap diskusi. Yaitu kecewa.
"Saya juga bingung apa hubungan kata kecewa ini dengan politik?" tukasnya.
Akhirnya dia sampai pada kesimpulan, tradisi politik yang lahir dalam beberapa tahun terakhir membuat warga kecewa. Kata ini diproduksi oleh mereka sendiri karena kegagalan parpol dan kandidat.
"Bayangkan dalam proses kampanye, mereka mendaki gunung harapan dan ketika sampai puncak mereka disuguhi kekecewaan, bertemu jarak antara keinginan dan apa yang terjadi," ujar Bendahara Umum Ikatan Alumni Universitas Lampung 2017-2019 itu.
Dari sanalah lahir program Konco Sekelik. Ini merupakan jawaban dari kekecewaan itu. Sebuah program pendampingan untuk memastikan agar kelompok petani terpilih binaannya menjalani proses budidaya yang baik sampai panen.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
