Terungkap, Peserta Diksar Mahepel Unila Jalan Kaki 5 Jam, Pratama Wijaya Hampir Pingsan Tetap Dipaksa Ikut
Tampan Fernando
Bandar Lampung
“Idealnya harus ada opsi untuk almarhum itu keluar dari kegiatan diksar, itu yang nampaknya tidak diberikan oleh panitia. Jadi tetap diminta untuk terus berjalan,” tambahnya.
Kemudian saat diksar berlangsung, terungkap ada beberapa tindak kekerasan yang dilakukan panitia. Termasuk dipaksa push up dengan satu set 25 kali.
Dari hasil investigasi Unila, terungkap kekerasan paling ekstrem terjadi pada kegiatan Jurit Malam dini hari. Para peserta wajib melewati pos 1 sampai pos 6.
“Mereka ada 6 pos yang harus dilewati tetapi mungkin pos yang agak ekstrem itu di pos 5 dan pos 6. Pos 5 itu adalah pos mental, dan pos 6 itu walaupun namanya keakraban tapi mereka disuruh merangkak. Tetapi kondisi kesehatan yang kurang baik maka itu semakin memperburuk kesehatan almarhum,” bebernya.
Saat diksar sudah selesai, tidak ada pemeriksaan kesehatan oleh panitia. Peserta dibiarkan pulang begitu saja.
“Fase kepulangan atau pasca kegiatan juga pembubarannya begitu saja. Dijemput oleh keluarga, dan keluarga yang tahu kondisi para peserta,” tandasnya.
Wakil Rektor Unila Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof Sunyono memaparkan ada 4 temuan kunci dari investigasi yang telah berjalan selama dua pekan.
Peertama adanya praktik kekerasan fisik dan psikis yang merendahkan martabat peserta Diksar.
Termasuk tindakan mencelupkan kepala ke lumpur, pemukulan, pemaksaan aktivitas ekstrem dalam kondisi tidak aman, serta penghinaan verbal.
“Kedua ada pelibatan aktif sejumlah alumni dan senior sebagai pelaku langsung atau sebagai pihak yang membiarkan kekerasan terjadi, bertentangan dengan prinsip keselamatan dan pembinaan dalam Pendidikan,” jelas Prof Sunyono.
Diksar Mahepel
mahasiswa Unila
Polda Lampung
investigasi Unila
Ormawa Unila
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
