Ketua Mahepel FEB Unila Bantah Aniaya Peserta Diksar: Kami Tidak Ada Kontak Fisik
Tampan Fernando
Bandar Lampung
RILISID, Bandar Lampung — Ketua Mahasiswa Ekonomi Pecinta Lingkungan (Mahepel) FEB Unila, Ahmad Fadilah, membantah dugaan adanya tindak kekerasan dan penganiayaan dalam kegiatan Diksar Mahepel.
Dugaan penganiayaan tersebut mencuat setelah salah satu peserta Diksar, Pratama Wijaya Kusuma, meninggal dunia pada 28 April 2025.
Ahmad Fadilah menyatakan bahwa selama pelaksanaan Diksar, panitia tidak melakukan kontak fisik dengan peserta.
“Selama saya mengikuti Diksar, kami tidak pernah melakukan kekerasan atau kontak fisik (dengan peserta). Berita soal penendangan itu tidak benar,” ujarnya kepada awak media, Selasa (3/6/2025).
Menurutnya, kegiatan pendidikan dasar tersebut telah dilaksanakan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku untuk semua peserta, dan telah mendapat persetujuan dari panitia diklat.
Ahmad mengaku tidak mengetahui adanya luka lebam di bagian leher Pratama. Yang ia ketahui hanyalah luka di bagian tangan dan siku, yang disebabkan oleh kegiatan merayap di tanah.
“Kalau soal luka lebam di leher, kami tidak tahu. Goresan di siku itu sebenarnya berasal dari kegiatan alam seperti merayap, membuat bivak, dan lain-lain. Luka-luka di bagian tangan itu akibat merayap,” jelasnya.
Terkait kegiatan push-up dan sit-up yang diwajibkan kepada peserta Diksar, Ahmad menyebut bahwa tujuannya adalah untuk meningkatkan ketahanan fisik dan menghangatkan tubuh.
“Push-up dan sit-up itu sebenarnya bertujuan untuk meningkatkan fisik peserta. Push-up juga bisa menghangatkan tubuh,” tambahnya.
Adapun jumlah panitia Diksar di kaki Gunung Betung, Desa Talang Mulya, Kabupaten Pesawaran pada 10–14 November 2024 berjumlah 11 orang.
Pratama Wijaya Kusuma
kasus kekerasan
penganiayaan
ormawa
Unila
mahasiswa Unila
Ahmad Fadilah
Mahepel Unila
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
