Ketua Mahepel FEB Unila Bantah Aniaya Peserta Diksar: Kami Tidak Ada Kontak Fisik
Tampan Fernando
Bandar Lampung
Namun Ahmad membenarkan ada sekitar 20 alumni yang turut hadir dan “meramaikan” kegiatan tersebut.
“Alumni itu ikut membantu. Mungkin hanya beberapa orang saja. Ada juga kegiatan malam perkenalan, saat itu berkumpul sekitar 20 alumni,” katanya.
Meski Diksar Mahepel Unila kini menuai kecaman publik lantaran diduga menyebabkan kematian peserta, Ahmad menyatakan pihaknya akan tetap menjalankan kegiatan organisasi seperti biasa.
“Menurut saya, yang pertama adalah tetap melanjutkan aktivitas yang menurut kami positif yang sudah diselenggarakan yang tujuannya positif,” ujarnya.
“Seperti kegiatan penanaman mangrove di bibir pantai, dan juga pemberian materi-materi SAR. Kami tetap melanjutkan karena Diksar itu sudah sesuai hasil rapat sebelumnya,” tambahnya.
Sementara Ibunda almarhum Pratama Wijaya Kusuma, Wirna Wani, mengungkapkan Almarhum mengaku selama mengikuti Diksar ditendang dan diinjak-injak di bagian perut dan dada oleh para senior, dengan alasan untuk melatih fisik dan mental.
“Saya ditendang di dada, ditendang di perut. Diinjak-injak. Tapi saya mau ngadu nggak boleh, nyawa saya diancam,” ujarnya menirukan perkataan Pratama.
Wirna mengaku tidak terima setelah mengetahui anaknya dianiaya habis-habisan dengan dalih kegiatan organisasi.
Ia pun meminta agar Pratama melawan jika ada perbuatan para senior yang sudah kelewat batas.
“Sebenarnya saya nggak terima dibilang latihan fisik, tapi ditendang perut, ditendang dada. Sampai saya nangis. Saya bilang, ‘Lawan, Nak, kalau mereka macam-macam,’” kata Wirna.
Pratama Wijaya Kusuma
kasus kekerasan
penganiayaan
ormawa
Unila
mahasiswa Unila
Ahmad Fadilah
Mahepel Unila
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
