Mbayan Subuh: Dzikir, Doa, dan Cinta yang Menghidupkan Hati
Rimadani Eka Mareta
Bandarlampung
“Kami berharap, kegiatan ini bisa menjadi wasilah untuk memperkuat iman, sekaligus menghidupkan semangat beribadah. Ibadah bukan sekadar rutinitas, melainkan energi yang membuat kita terus berjalan di jalan-Nya,” katanya.
Iktikaf di Masjid Agung Al Hijrah bukan hanya tentang shalat malam, dzikir, dan doa. Ada kajian, ada tausiah, ada ruang-ruang perenungan yang membuka mata hati. Dalam diamnya malam, dalam sejuknya Subuh, jamaah belajar bahwa hidup ini sesungguhnya hanya perjalanan pulang.
Dan ketika ayat-ayat Allah dibacakan, terasa benar bahwa ia bukan sekadar huruf dan lafaz. Ia adalah getaran cinta dari langit. Ia menyapa di desir angin, di gemuruh ombak, bahkan di heningnya doa tengah malam.
Tsunami, gempa, banjir, atau bencana lain — mungkin bagi hati yang lalai hanyalah murka. Namun bagi jiwa yang beriman, semua itu adalah kasih sayang Allah, panggilan lembut untuk kembali.
Al-Qur’an adalah cahaya yang visioner. Ia menyingkap masa depan, bercerita tentang doa lirih di sajadah yang mampu mengguncang singgasana Arasy. Betapa romantis hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya: saat dunia terlelap, langit justru mendengarkan. Saat kata terhenti, Allah tetap membaca isi hati.
Mbayan subuh
rektor universitas teknokrat indonesia
teknokrat
masjid al hijrah kota baru
kota baru
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
