Mbayan Subuh: Dzikir, Doa, dan Cinta yang Menghidupkan Hati
Rimadani Eka Mareta
Bandarlampung
RILISID, Bandarlampung — Subuh di Masjid Agung Al Hijrah terasa berbeda. Sehabis jamaah menunaikan shalat berjamaah, mereka tak segera pulang.
Ada yang tetap duduk, ada yang merapatkan shaf, ada pula yang memejamkan mata sejenak, seakan menyiapkan hati untuk sesuatu yang lebih dalam: Mbayan Subuh, tausiah yang menjadi rangkaian iktikaf sejak 2 hingga 5 Oktober 2025.
Di bawah cahaya lampu masjid yang temaram, suara lembut Ustadz Komjen Pol Purn. Anton Bachrul Alam menggema, membawakan tema “Syukur Hidup, Menghidupkan Hati dengan Dzikir dan Doa serta Mengikuti Ajaran Rasulullah SAW”.
Beliau mengingatkan jamaah bahwa kedekatan dengan Allah SWT adalah rahasia hidup yang sebenarnya: melalui sholat, dzikir, doa, dan kepasrahan di waktu-waktu mustajab.
“Syukur itu bukan hanya ucapan, tapi napas yang selalu mengingat-Nya. Dzikir itu bukan sekadar lafaz, tapi denyut hati yang tidak pernah sepi dari Allah,” ujarnya penuh kelembutan.
Suasana masjid pun terasa hangat, khusyuk. Jamaah dari berbagai kalangan menyimak dengan antusias, seakan setiap kalimat yang keluar adalah obat untuk jiwa yang letih. Mbayan Subuh tak hanya menambah ilmu agama, tetapi juga mempererat ukhuwah; menautkan hati-hati dalam satu tujuan: pulang kepada Allah.
Ustadz H. Jafar, salah satu panitia iktikaf, menuturkan bahwa Mbayan Subuh telah menjadi agenda rutin dalam iktikaf.
Mbayan subuh
rektor universitas teknokrat indonesia
teknokrat
masjid al hijrah kota baru
kota baru
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
