Manfaat Biopori Diperkenalkan Mahasiswa KKN ITERA ke Masyarakat Dusun Kuala Jaya
Agus Pamintaher
Tanggamus
RILISID, Tanggamus — Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan, khususnya dalam mengatasi permasalahan sampah dan genangan air di wilayah pesisir masih sangat rendah.
Hal itu menjadi perhatian dari Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) PPM kelompok 83 Institut Teknologi Sumatera (ITERA) saat melaksanakan program kerja “Biopori” di Dusun Kuala Jaya, Desa Tegineneng, Kecamatan Limau, Kabupaten Tanggamus.
Salah satu program kerja utama dari tim KKN tersebut untuk menghadapi permasalahan lingkungan berupa penumpukan sampah rumah tangga yang belum tertangani secara optimal.
Menurut salah seorang mahasiswa, Sonya Suryane tingkat kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah organik masih tergolong rendah.
Sebagian warga masih membuang sampah organik seperti dedaunan dan sisa sayuran dengan cara dibiarkan menumpuk atau dibakar, sehingga pengelolaan sampah tidak berjalan secara efektif.
"Kondisi tersebut semakin diperparah oleh kebiasaan masyarakat yang masih membuang sampah secara sembarangan, terutama di area perairan seperti kali dan sungai," ujar Sonya, Senin (2/2/2026).
Akibatnya, terjadi pencemaran lingkungan yang berdampak pada menurunnya kualitas kebersihan wilayah pesisir serta berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat setempat.
Biopori merupakan teknologi sederhana ramah lingkungan yang berfungsi sebagai media resapan air sekaligus pengolahan sampah organik.
Biopori dibuat dalam bentuk lubang vertikal dengan diameter sekitar 10 cm dan tinggi 50 cm yang diisi sampah organik seperti sisa makanan, daun kering, dan limbah dapur.
Sampah organik tersebut akan terurai secara alami oleh mikroorganisme tanah dan menghasilkan kompos yang dapat meningkatkan kesuburan tanah serta kualitas lingkungan sekitar.
Mahasiswa KKN
PPM 83 ITERA
Biopori
masyarakat pesisir
Dusun Kuala Jaya
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
