Keramba Jaring Apung dan Gulma Cemari Bendungan Way Rarem, Program Ketahanan Pangan Terancam
Tampan Fernando
Bandar Lampung
RILISID, Bandar Lampung — Maraknya keramba jaring apung (KJA) di Bendungan Way Rarem, Kabupaten Lampung Utara, semakin mengkhawatirkan. Saat ini jumlah KJA mencapai sekitar 220 unit, jauh melebihi kapasitas daya dukung waduk.
Pengelolaan KJA yang setiap hari menaburkan ratusan hingga berton-ton pakan ikan menyebabkan penumpukan sisa pakan dan kotoran ikan. Kondisi ini memicu pencemaran air, gangguan operasi teknis waduk, serta potensi konflik sosial.
Bahkan jika pemerintah tidak bertindak, masalah itu bisa mengancam program ketahanan pangan nasional karena berkurangnya tangkapan air.
70 Persen Permukaan Waduk Tertutup Gulma
Hasil survei Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung menunjukkan, tingginya sisa pakan ikan mempercepat pertumbuhan gulma air seperti eceng gondok dan kiambang. Tercatat estimasi volume gulma mencapai 1,9 juta meter persegi dengan ketebalan 20–25 sentimeter.
Diperkirakan 70 persen permukaan waduk kini tertutup gulma, sehingga menghambat fungsi hidrolis waduk, mempercepat sedimentasi, dan meningkatkan risiko pendangkalan.
Eka Kurniawan, Pejabat Pembuat Komitmen Operasi dan Pemeliharaan SDA III BBWS Mesuji Sekampung, menjelaskan bahwa Waduk Way Rarem dibangun pada 1981 untuk irigasi, pengendalian banjir, dan pariwisata.
Pada 1998, waduk mulai dimanfaatkan sebagai alternatif mata pencaharian warga Desa Pekurun melalui budidaya KJA sebanyak 30 unit.
“Namun jumlah itu meningkat pesat. Pada tahun 2021 jumlah KJA mencapai 684 unit,” ujarnya kepada Rilis.id, Selasa (9/12/2025).
Bendungan Way Rarem
BBWS Mesuji Sekampung
gulma air
bendungan Lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
