Hinjang Miwang, Kain Adat Identitas Perempuan Lambar Tetap Lestari
Anton Suryadi
Lampung Barat
RILISID, Lampung Barat — Salah satu ciri khas adat dan budaya Lampung Barat (Lambar) yang sudah ada sejak dahulu kala dan hingga kini masih dilestarikan adalah Hinjang Miwang, yakni kain adat yang menjadi identitas perempuan Lampung.
Kekayaan budaya itu kembali ditampilkan dalam Festival Budaya Nyambai Bebakhong yang digelar di Lapangan Pekon Kenali, Kecamatan Belalau, Minggu (21/9/2025).
Festival sebagai bagian dari rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-34 Kabupaten Lampung Barat dan berhasil menarik lebih dari 10 ribu pengunjung.
Di tengah kemeriahan, perhatian pengunjung tertuju pada kain adat Hinjang Miwang yang dikenakan para perempuan.
Kain ini tampil anggun dengan balutan selendang berornamen khas, memancarkan keindahan sekaligus identitas masyarakat Lambar.
Hinjang Miwang sendiri merupakan kain tenun tradisional yang biasanya digunakan kaum perempuan, khususnya yang sudah menikah.
Kain ini kerap hadir dalam berbagai kegiatan adat, mulai dari pernikahan, pesta rakyat, hingga festival budaya.
Sastya, warga asal Pekon Kali, Kecamatan Belalau, menjelaskan makna kain tersebut.
“Hinjang Miwang adalah kain adat khas Lampung yang menjadi bagian penting dari identitas budaya. Kain ini juga dikenal sebagai sarung sinjang, dipakai dalam acara adat, bahkan kadang ditampilkan dalam acara internasional untuk memperkenalkan budaya lokal,” ujar Satya, Senin (21/9/2025).
Selain berfungsi sebagai busana, Hinjang Miwang juga mencerminkan status sosial dan penghormatan terhadap adat. Pemakaiannya menunjukkan keterikatan seseorang, khususnya perempuan, pada tradisi lokal.
Lambar
Budaya
Hinjang Miwang
Kain Adat
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
