Hinjang Miwang, Kain Adat Identitas Perempuan Lambar Tetap Lestari
Anton Suryadi
Lampung Barat
Tak hanya kain, para perempuan Lambar juga mengenakan Selendang Miwang atau dikenal sebagai Selendang Nangis.
Selendang dengan motif Seminung dan Pesagi ini menjadi simbol perpisahan dari masa lajang sebelum memasuki jenjang pernikahan.
“Selendang Miwang adalah salah satu identitas budaya Lambar. Fungsinya bukan sekadar pelengkap busana, tapi juga simbol transisi kehidupan perempuan dari lajang menuju pernikahan,” tambah Sastya.
Selain busana, kekayaan tradisi Lampung Barat juga tercermin dalam seni tutur Hahiwang.
Tradisi ini berupa ungkapan perasaan dan pengalaman hidup perempuan Lampung yang disampaikan dalam bentuk syair.
Lisa, warga Way Semangka, menjelaskan bahwa Hahiwang sarat makna emosional.
“Hahiwang berasal dari kata hiwang yang berarti menangis, meratap, atau penyesalan. Syairnya dilantunkan dengan suara yang menyayat, sebagai bentuk ekspresi kesedihan mendalam,” ungkapnya.
Menurut Lisa, Hahiwang menjadi media bagi perempuan Lampung untuk menyampaikan isi hati mereka dalam balutan seni tutur.
Pada masa lalu, Hahiwang kerap dibawakan dalam upacara adat sebagai simbol kedalaman rasa.
Festival Nyambai Bebakhong tak hanya menjadi tontonan, tetapi juga pengingat bagi masyarakat bahwa adat istiadat Lambar adalah warisan yang harus dijaga bersama.
Lambar
Budaya
Hinjang Miwang
Kain Adat
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
