FGD Sampah Bandar Lampung Hasilkan Lima Rekomendasi, Simak Selengkapnya
Gueade
Bandar Lampung
Agus Solihin, pelopor Bank Sampah Emak.ID, menyampaikan pengalaman nyata bagaimana edukasi dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama dalam pengelolaan sampah.
“Kami membuktikan bahwa masyarakat mampu memilah sampah dan menjadikannya bernilai ekonomi. Tapi mereka butuh sistem yang mendukung: ada insentif, ada edukasi, dan ada ekosistem yang hidup. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri,” ungkapnya.
Sementara itu Haris Murwadi, menekankan bahwa perubahan paradigma pengelolaan sampah perlu didorong dari kebijakan yang berbasis data dan inovasi.
“Bandar Lampung membutuhkan waste management roadmap yang terukur. Harus dipetakan sumber sampah, jenisnya, dan potensi pengolahannya. Kita juga perlu mulai menggunakan teknologi modern yang sesuai skala kota, bukan hanya mengandalkan tenaga kerja manual,” terangnya.
Dari sisi pengawasan legislatif, Agus Djumadi, menyatakan bahwa DPRD siap mendorong kebijakan yang lebih progresif dalam mendukung pengelolaan sampah, baik melalui regulasi maupun penganggaran.
“Komisi III sudah sering menerima keluhan warga soal tumpukan sampah dan bau TPA. Tapi solusi jangka panjang tidak cukup dengan truk dan armada. Harus ada keberanian membuat regulasi yang tegas: wajib pilah sampah, insentif untuk pengelolaan, dan sinergi antar OPD. DPRD siap mengawal ini,” ujarnya.
Diskusi FGD ini menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis yang akan dirumuskan dalam dokumen resmi untuk disampaikan kepada pemerintah kota, yakni:
1. Segera menyusun masterplan pengelolaan sampah terpadu yang berbasis data, partisipatif, dan terukur.
2. Mewajibkan pemilahan sampah dari rumah tangga sebagai kebijakan utama, disertai dengan edukasi dan dukungan logistik.
3. Mendorong pengembangan ekosistem bank sampah dan ekonomi sirkular untuk meningkatkan nilai tambah sampah.
Sampah
Bandar Lampung
FGD
PKS
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
