Puluhan warga memadati area samping Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Desa Kembahang, Kecamatan Batu Brak, Kabupaten Lampung Barat, sejak Senin (14/10/2025) malam.
Mereka bukan mengantre bahan bakar, melainkan menunggu datangnya tabung gas elpiji 3 kilogram bersubsidi.
Antrean panjang mulai terjadi sejak mobil pengangkut LPG tiba sekitar pukul 19.30 WIB dan bertahan hingga larut malam.
Warga membawa tabung kosong serta kartu tanda penduduk (KTP) sebagai syarat pembelian.
Malam itu, sekitar 200-300 tabung gas disalurkan dalam suasana padat.
Bagi sebagian warga, antrean tersebut bukan karena kelangkaan gas, melainkan untuk mendapatkan harga yang lebih murah dibandingkan pengecer di tingkat warung.
Rosita, salah seorang warga, mengaku rela mengantre hingga malam karena harga gas di SPBU lebih terjangkau.
“Nggak langka kok gasnya, kami ke sini karena di sini lebih murah. Kalau di warung bisa sampai Rp30 ribu, di sini cuma Rp20 ribu,” ujarnya.
Ia menambahkan, selisih harga Rp10 ribu cukup berarti bagi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
“Bagi ibu-ibu, Rp10 ribu itu sudah bisa buat beli lauk. Makanya kami rela antre malam-malam,” katanya.
Namun, tidak semua warga sependapat. Mursal misalnya warga dari desa tetangga, ia menilai antrean malam itu mencerminkan masih terbatasnya pasokan LPG 3 kilogram di wilayah Batu Brak dan sekitarnya.
“Kalau nggak langka, ngapain kami antre malam-malam. Di warung susah dapatnya, kadang stoknya terbatas,” ujarnya.
Menurut dia, kondisi tersebut diperparah dengan harga jual di warung yang kerap melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
“Kalau antri langsung dari mobil di sini memang lebih murah, tapi di warung sering habis. Kadang kalau ada pun, harganya bisa sampai Rp35 ribu,” tambahnya.
Informasi di lapangan menyebutkan, penyaluran gas LPG 3 kilogram di SPBU Kembahang hanya dilakukan sekali dalam sepekan.
Frekuensi distribusi yang terbatas ini diduga menjadi penyebab utama terjadinya antrean panjang setiap kali stok tiba.
Fenomena ini menyoroti masih rapuhnya sistem distribusi energi bersubsidi di daerah pedesaan.
Di satu sisi, harga resmi LPG 3 kilogram masih tergolong terjangkau, namun di sisi lain, akses untuk memperolehnya tidak mudah, terutama bagi warga di wilayah terpencil.
Warga berharap pemerintah daerah bersama Pertamina dapat menambah frekuensi serta kuota penyaluran LPG bersubsidi di wilayah Batu Brak dan sekitarnya, agar masyarakat tidak perlu lagi mengantre hingga larut malam demi mendapatkan tabung gas untuk kebutuhan sehari-hari. (*)