Waspada Pengemis di Jalur Mudik Indramayu-Subang
Anonymous
Indramayu
Arwah korban kemudian berkeliaran dan mengganggu mereka yang melewati jalan tersebut.
Sejak itu, dan tidak diketahui secara pasti kapan dimulai, pengendara mobil yang akan melewati jembatan Kali Sewo memberikan sesuatu dan biasanya dalam bentuk uang agar tidak diganggu, aman dan bebas dari kecelakaan.
Lama kelamaan, kebiasaan yang hanya dilakukan segelintir orang itu berubah menjadi tradisi dan dilakukan setiap hari.
Sehingga, menjadi penghasilan sampingan warga sekitar yang sebagian besar adalah petani.
Terutama pada musim mudik Lebaran, jumlah pengemis sudah mencapai ratusan dan tidak hanya dilakukan pada siang hari, tapi hampir 24 jam.
Menurut pengakuan Suparto, musim mudik dan balik Lebaran adalah saat "panen" karena dalam sehari mereka bisa mengumpulkan Rp150 ribu dari recehan, sementara pada hari biasanya paling banyak hanya Rp50 ribu.
Tradisi tersebut, tampaknya sulit untuk dilarang meski berbahaya karena pengemis yang terlalu sibuk menyapu uang recehan bisa tertabrak oleh kendaraan yang melintas.
Pihak kepolisian setempat pun berusaha memaklumi tradisi yang sudah berlangsung bertahun-tahun tahun tersebut dan terlihat berusaha mengatur lalu lintas agar tertib dan tidak memmbahayakan warga lokal yang ikut merayakan Idul Fitri, sambil mengais rezeki.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
