Guru Berpaham Radikal Mudah Menular ke Siswa

Zulhamdi Yahmin

Zulhamdi Yahmin

Jakarta

3 Juni 2018 20:05 WIB
Nasional | Rilis ID
Puluhan siswa SMAN 1 Mamasa, Sulawesi Barat, menggelar aksi menolak terorisme dengan membakar lilin di lapangan sepak bola Mamasa, Sulbar, Selasa (15/5/2018) malam. FOTO: Dok. pribadi
Rilis ID
Puluhan siswa SMAN 1 Mamasa, Sulawesi Barat, menggelar aksi menolak terorisme dengan membakar lilin di lapangan sepak bola Mamasa, Sulbar, Selasa (15/5/2018) malam. FOTO: Dok. pribadi

RILISID, Jakarta — Pemerhati pendidikan dari Sekolah Global Sevilla, Robertus Budi Setiono, mengatakan, radikalisme di sekolah dapat dicegah mulai dari perekrutan guru. Pasalnya, kata dia, akan sangat berbahaya bila sekolah salah dalam merekrut guru.

"Perekrutan guru harus benar-benar selektif. Jangan sampai sekolah merekrut guru yang menganut paham radikal," kata Robert di Jakarta, Minggu (3/6/2018).

Robert menilai, siswa dan siswi di sekolah cenderung mengikuti apa yang diajarkan oleh para guru. Sehingga, siswa-siswi itu akan mudah dipengaruhi oleh ideologi dari guru tersebut.

"Karena paham tersebut (radikal) dengan mudah bisa ditularkan ke siswa," ujarnya.

Pencegahan paham radikal pada anak, imbuh dia, tidak hanya di sekolah, namun juga di rumah. Orang tua, menurutnya, harus benar-benar memperhatikan lingkungan anak, karena sangat berpengaruh pada pemikiran anak.

Robert menjelaskan meski di sekolah sudah ditanamkan nilai-nilai Pancasila, namun di rumah orang tua memiliki pandangan yang berbeda.

"Hal ini yang membuat anak bimbang dan kemudian mencari jawabannya. Tentunya ini sangat berbahaya, jika mendapat jawaban yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila," imbuhnya.

Dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila, jelas Robert, harus diajarkan melalui dua arah yang mana lebih banyak praktik dibandingkan teori. Dia memberi contoh salah satu penerapan Pancasila yang diajarkan kepada anak-anak sejak usia dini, yaitu perayaan hari-hari besar keagamaan, seperti buka puasa bersama, Lebaran, dan Natal.

"Anak-anak dari berbagai suku, agama, dan ras berbaur jadi satu. Saat bukber (buka bersama) atau Lebaran, anak-anak serta orang tua non-Muslim ikut menyiapkan kebutuhan acara. Sebaliknya saat Natal, yang Muslim ikutan sibuk," paparnya.

Menampilkan halaman 1 dari 1

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya