Terumbu Karang Pahawang Makin Rusak
Tampan Fernando
Bandar Lampung
RILISID, Bandar Lampung — Setelah sekian lama, saya akhirnya kembali menginjakkan kaki di Kepulauan Pahawang, Kabupaten Pesawaran. Akhir Desember 2025 lalu, saya bersama beberapa rekan snorkeling menikmati keindahan bawah laut Pahawang. Namun, kondisi laut hari ini justru menyisakan rasa getir.
Terakhir kali saya snorkeling di Pahawang awal Januari 2020, tepat sebulan sebelum pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Saat itu, tanda-tanda kerusakan terumbu karang sebenarnya sudah terlihat jelas.
Banyak karang patah, rusak, bahkan hancur, entah akibat jangkar kapal yang sembarangan dijatuhkan, diinjak wisatawan, hingga kebiasaan buruk wisatawan membawa pulang potongan karang kecil sebagai “oleh-oleh” atau perhiasan.
Semua itu seperti dosa kolektif yang terus dibiarkan tanpa kontrol. Lima tahun berlalu, dan kondisi yang saya temui justru jauh lebih memprihatinkan.
Air laut kini tampak lebih keruh. Sebagian besar terumbu karang yang telah mati berubah warna menjadi cokelat kehitaman, tak lagi menampilkan warna-warni yang dulu membuat Pahawang terasa seperti akuarium raksasa alami.
Memang, di beberapa titik terlihat upaya penanaman terumbu karang baru, sebuah niat baik yang patut diapresiasi. Namun upaya itu belum sebanding dengan kerusakan masif yang telah terjadi.
Terumbu karang bukan sekadar objek wisata. Ia adalah ekosistem yang membutuhkan puluhan bahkan ratusan tahun untuk pulih. Menanam tanpa menghentikan perusakan hanyalah menunda kehancuran.
Rusaknya terumbu karang Pahawang seharusnya menjadi peringatan keras, bukan hanya bagi pelaku wisata, tetapi terutama bagi Pemerintah Provinsi Lampung, khususnya Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Selama ini, Pahawang adalah wajah Lampung di mata wisatawan luar. Boleh saja kini bermunculan destinasi baru, pantai-pantai privat, hotel megah, hingga kawasan wisata modern. Namun, nama Pahawang tetap menjadi magnet utama karena keindahan bawah lautnya yang tak dimiliki daerah lain.
Masalahnya, magnet itu perlahan kehilangan daya tarik. Jika kerusakan ini terus dibiarkan, kondisinya akan semakin parah. Dan ketika publik semakin sadar bahwa keindahan itu telah memudar, minat berkunjung pun akan ikut tenggelam. Pariwisata Lampung bukan hanya terancam stagnan, tetapi bisa benar-benar ditinggalkan.
Pahawang
terumbu Karang
opini
Tampan Fernando
wisata Lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
