Saatnya Sumatra Keluar dari Lingkaran Banjir

lampung@rilis.id

lampung@rilis.id

Jakarta

8 Desember 2025 10:59 WIB
Perspektif | Rilis ID
Oleh: Andi Setyo Pambudi, Perencana Ahli Madya Kementerian PPN/Bappenas. Ilustrasi: Kalbi Rikardo/Rilis.id
Rilis ID
Oleh: Andi Setyo Pambudi, Perencana Ahli Madya Kementerian PPN/Bappenas. Ilustrasi: Kalbi Rikardo/Rilis.id

Pemulihan hutan dan lahan gambut juga menjadi kunci penting dalam memperbaiki keseimbangan air di Sumatra. Program perhutanan sosial perlu diperluas agar masyarakat bisa mengelola hutan secara legal dan lestari.

Dengan begitu, hutan tetap terjaga, sementara warga juga mendapat sumber penghidupan yang lebih aman dan berkelanjutan.

Restorasi gambut di Riau dan Jambi tak kalah penting. Gambut yang sehat ibarat spons raksasa yang mampu menyimpan air dalam jumlah besar dan melepaskannya secara perlahan.

Jika gambut rusak akibat drainase dan kebakaran, kemampuan ini hilang. Akibatnya, banjir makin parah saat musim hujan, dan kekeringan makin ekstrem saat kemarau.

Agar semua upaya ini benar-benar berjalan, setiap pemerintah provinsi perlu diwajibkan membuat laporan tahunan tentang kondisi kesehatan DAS. Data soal tutupan hutan, erosi, kualitas air, dan sedimentasi harus dibuka ke publik agar bisa diawasi bersama.

Di wilayah perkotaan, cara menangani banjir juga perlu diubah. Selama ini, banyak kota terlalu bergantung pada betonisasi sungai dan saluran tertutup. Ke depan, solusi berbasis alam harus ikut diperkuat.

Kolam retensi perlu diperbanyak di kota-kota seperti Medan, Pekanbaru, dan Padang untuk menampung limpasan air hujan. Sistem drainase juga harus dibangun dengan standar yang lebih tahan terhadap hujan ekstrem akibat perubahan iklim.

Di pesisir timur Sumatra, mangrove harus dipulihkan secara serius. Hutan mangrove bukan hanya pelindung dari abrasi, tetapi juga berfungsi menahan gelombang pasang dan menyaring sedimen secara alami.

Sistem peringatan dini banjir dan cuaca ekstrem juga wajib diperkuat. Kerja sama antara BMKG, BNPB, dan Kementerian PU harus makin solid agar informasi cuaca, kenaikan debit sungai, dan potensi banjir bisa sampai ke masyarakat dengan cepat dan akurat. Sensor sungai berbasis data real-time di wilayah hulu juga perlu diperbanyak agar ancaman banjir bandang bisa terdeteksi lebih dini.

Dalam jangka menengah, Sumatra juga membutuhkan sistem peramalan banjir berbasis data iklim dan hidrologi terpadu. Dengan langkah ini, kesiapsiagaan daerah bisa ditingkatkan sebelum bencana benar-benar terjadi.

Menampilkan halaman 2 dari 3

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Segan Simanjuntak
Tag :

Banjir Sumatra

Bencana Alam

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya