Kenapa Banyak Emak-Emak Terlibat Perasaan di Medsos? Ini Penjelasannya
Yuda Haryono
Pringsewu
Emak-emak tidak selalu mencari tubuh orang lain, tetapi mencari rasa: rasa dihargai, didengarkan, dan dianggap penting.
Sayangnya, rasa itu sering disalahartikan sebagai cinta sejati.
Perlu Dikritik, Tapi Bukan Dihina
Fenomena ini tetap perlu dikritik. Keterlibatan perasaan di media sosial berpotensi merusak diri sendiri, keluarga, dan hubungan yang telah dibangun.
Namun, kritik yang hanya berisi hinaan justru menutup ruang refleksi.
Alih-alih menghakimi, fenomena ini seharusnya menjadi cermin bersama: tentang kebutuhan emosional yang tak terpenuhi, tentang komunikasi yang terputus, dan tentang manusia dewasa yang diam-diam kelelahan.
Karena di balik layar ponsel, sering kali bukan nafsu yang sedang mencari mangsa, melainkan hati yang sedang mencari tempat pulang.
Pada hakikatnya tempat pulang dan bercerita ternyaman adalah keluarga.
Mari jadikan media sosial sebagai ruang informasi jangan jadikan untuk mencari kepuasan pribadi. (*)
Pringsewu
fenomena medsos
emak emak
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
