'Fakar' di Antara Pilar Demokrasi: Refleksi Marwah, Luka, dan Jalan Kemerdekaan
lampung@rilis.id
-
Secara akademis, perilaku ini dapat kita bedah melalui pisau psikologi kognitif yang disebut Dunning-Kruger Effect. Ini adalah sebuah bias di mana individu dengan kompetensi rendah menderita superioritas ilusif. Mereka merasa paling paham hukum, paling mengerti anggaran, dan paling berhak menghakimi pejabat publik.
Padahal, agresivitas dan teriakan lantang mereka di media sosial sejatinya adalah mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) untuk menutupi rasa rendah diri (inferiority complex) akibat ketidakmampuan bersaing secara profesional.
Dalam tinjauan kriminologi, sosiolog Robert K. Merton melalui Strain Theory (Teori Ketegangan) memberikan penjelasan yang masuk akal. Para oknum ini terjebak dalam ketegangan antara hasrat budaya (ingin kaya, ingin dihormati) dengan ketiadaan sarana yang sah (kompetensi, kerja keras).
Ketika jalan meritokrasi terasa terjal karena minimnya skill, mereka memilih jalan pintas: "inovasi menyimpang". Kartu pers direduksi fungsinya dari alat perjuangan menjadi sekadar alat tawar (bargaining power) untuk memeras.
Lebih dalam lagi, jika kita menyentuh dimensi sosiologi-spiritual, fenomena ini adalah lonceng peringatan tentang degradasi peradaban. Kita sedang berada di fase di mana rasa malu telah menguap. Rasulullah SAW pernah mengingatkan, "Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu."
Hari ini, kita melihat manifestasi nyata dari hadis tersebut. Fitnah diproduksi sebagai komoditas, aib orang lain diperdagangkan, dan ketakutan pejabat dijadikan lahan nafkah. Orientasi hidup yang terjebak pada hubbuddunya (cinta dunia berlebihan) telah mematikan sensor moral, sehingga rezeki yang haram pun terasa manis di lidah.
Lantas, bagaimana birokrasi dan masyarakat sipil harus bersikap? Apakah kita membiarkan para sahabat jurnalis profesional terus terzalimi karena profesinya dicemarkan oleh oknum? Tidak. Kita harus melawan, bukan dengan kekerasan, tapi dengan cahaya.
Transparansi adalah antitesis mutlak bagi kegelapan modus operandi para oknum. Pejabat publik, kepala sekolah, hingga kepala desa harus berani "telanjang" secara data. Publikasikan anggaran, buka akses informasi seluas-luasnya. Ketika transparansi ditegakkan, "kartu as" ancaman yang dipegang para oknum ini menjadi debu yang tak bernilai.
Transparansi ini bukan hanya soal administrasi, tapi soal keberpihakan. Dengan bersikap transparan, kita sedang menggelar "karpet merah" bagi jurnalis profesional untuk bekerja lebih akurat, sekaligus menebar "racun" bagi parasit yang tidak tahan pada sinar matahari kebenaran.
Terakhir, sebagai solusi struktural, kita perlu menghentikan pola penyelesaian yang pragmatis. Memberikan "uang damai" atau "jatah proyek" kepada oknum hanya akan melestarikan mentalitas pengemis. Itu adalah racun yang manis.
Fakar di Antara Pilar Demokrasi
Refleksi Marwah
Luka
Jalan Kemerdekaan
Alfa Dera
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
