Dari Ramping ke Buncit, Efek Samping Jabatan
Yuda Haryono
Pringsewu
Fasilitas negara tersedia, gaji dan TPP rutin, akses mudah, ritme hidup melambat.
Kenyamanan yang jika tidak dikontrol, pelan-pelan menggerus disiplin diri termasuk disiplin menjaga kesehatan.
Tentu saja, masyarakat berhak curiga pada pejabat tersebut. Itu sehat dalam demokrasi.
Tapi izinnya perut buncit sebagai bukti korupsi justru memicu kekhawatiran masalah yang lebih besar: integritas, transparansi, dan kinerja.
Bagi saya, perut buncit pejabat bukan soal seberapa banyak ia “memakan” uang rakyat, melainkan seberapa lama ia terlena oleh fasilitas dan kekuasaan.
Dan sering kali, yang paling berbahaya dari kekuasaan bukanlah uang melainkan rasa nyaman yang membuat lupa diri.
Kalau menurut kalian bagaimana, Rilizen?
Perut buncit itu tanda korupsi, atau tanda terlalu betah di kursi empuk kekuasaan apa mungkin malas olahraga?. (*)
Pringsewu
perut buncit pejabat
nyaman dengan jabatan dan malas olahraga
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
