Ujian Kesabaran dan Keikhlasan

lampung@rilis.id

lampung@rilis.id

29 Oktober 2020 22:30 WIB
Perspektif | Rilis ID
Rosim Nyerupa, S.IP., tokoh muda Lampung Tengah. ILUSTRASI: RILISLAMPUNG.ID/Kalbi Rikardo
Rilis ID
Rosim Nyerupa, S.IP., tokoh muda Lampung Tengah. ILUSTRASI: RILISLAMPUNG.ID/Kalbi Rikardo

Ikhlas, sabar dan berjiwa besar. Allah pasti akan membalas semua perbuatan baik dan buruknya kita. Ingat, tidak hari ini mungkin besok, Tidak besok mungkin lusa, tidak lusa mungkin minggu depan. Tidak juga minggu depan mungkin bulan depan. Tidak juga bulan depan mungkin tahun depan. Dan di akhirat janji Allah sangat nyata. Semua pasti akan dibalas oleh Allah SWT.

Mengutip kalimat bijak Saudara saya, Abda'u (Kabid PTKP HMI Cabang Bandarlampung), salah satu kandidat ketua HMI Cabang Bandarlampung bahwa pengetahuan dan pertemanan yang luas belum cukup untuk kita bisa bermanfaat. Perlu ada empati, responsibility dan keberanian yang kuat.

Sebagai makhluk yang beragama, Islam tidak mengajarkan kita untuk membenci satu sama lain. Sebagaimana terkandung dalam QS. Al Baqarah: 216 yang artinya menyebutkan bahwa “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Pada dasarnya memang sesungguhnya sesama muslim itu bersaudara. “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al Hujarat : 10).

Sebagai umat muslim, tugas kita adalah mengimplementasikannya dalam bermasyarakat untuk saling menjalin dan menjaga silaturahmi, saling merekatkan satu sama lain bahkan hubungan yang terjalin dalam sebuah perkawanan dapat menjadi hubungan persahabatan dan sangking baiknya interaksi dapat direkatkan menjadi sebuah hubungan kekeluargaan. Sehingga rasa saling memiliki antara satu sama lain dapat terjalin, Dengan itu akan tumbuh yang namanya saling menjaga baik menjaga hati maupun menjaga sikap.

Nilai-nilai keislaman tersebut jika dilihat dari sudut pandang kultural, sebagai Ulun (Orang) Lampung, nenek moyang kita telah mewariskan falsafah hidup yang menjadi pondasi diri dalam bermasyarakat yang disebut dengan Piil Pesenggiri.

Di dalam Piil Pesenggiri terdapat nilai Sakai Sambayan yang mengandung makna The Principle Of Collaboration atau prinsip kerja sama, Nemui Nyimah yang mengandung The Principle Of Appreciation (Prinsip Penghargaan), Nengah Nyapur yang memiliki makna The Principle Of Equality (Prinsip Persamaan) dan Bejuluq Buadeq yang mengandung makna The Principle Of Achievement (Prinsip penghargaan dan keberhasilan) serta terdapat adat Muwakhi yang dapat kita sibak implementasikan dalam hubungan sosial kita.

Prinsip-prinsip tersebut yang kemudian menjadi pondasi dasar yang musti diimplementasikan dalam interaksi perkawanan, sehingga persaudaraan tanpa syarat dapat diwujudkan dengan baik. Terkadang memang seringkali kita dihadapkan dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan begitupun sebaliknya. Seperti halnya bermain sosial media seperti Instagram.

Saat memosting video atau gambar, kita tidak dapat memaksa followers menyukai postingan kita, Banyak atau tidaknya like dalam postingan tergantung kesukaan teman dalam Instagram kita. Begitu juga dengan hidup, Kita tidak bisa memaksakan kehendak agar orang lain seperti apa yang ada di hati kita.

Tugas kita hanyalah bagaimana berupaya memberikan hal yang terbaik kepada mereka dalam hubungan interaksi yang telah dibangun, Setelah itu, biarkan dalam perjalanannya ujian pertemanan terjadi, di situlah nanti akan teruji, mampukah kita saling mengisi dan bertahan?

Menampilkan halaman 3 dari 4

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Segan Simanjuntak
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya