Tidak Ada yang Baru di Tahun Baru
lampung@rilis.id
Bandarlampung
Secara tidak sadar, kita telah menghamburkan sekian banyak uang yang sesungguhnya uang tersebut sangat dibutuhkan oleh saudara-saudara kita yang saat ini sedang dirundung duka.
Nilai petasan dan kembang api yang menghiasi angkasa di malam Tahun Baru sangatlah berarti bagi saudara-saudara kita yang saat ini masih harus tinggal di tempat penampungan.
Padahal sesungguhnya bukan tahun barunya yang penting, tetapi bagaimana setiap manusia mulai menata ulang sikap mentalnya untuk memasuki tahun baru.
Tahun baru berarti memiliki cara pandang yang baru dan suci dalam berupaya memperoleh sesuatu yang baru.
Tahun baru juga berarti mengasah kompetensi diri dengan metode yang baru untuk meraih jenjang karier yang baru.
Terkait dengan banyaknya bencana, hari ini perlu pengakuan secara jujur bahwa kita telah banyak melakukan kesalahan di dalam mengelola alam ini.
Kita tidak perlu lagi memperdebatkan tentang tinjauan teologi, apakah bencana tersebut sebuah ujian, cobaan, peringatan, azab atau apapun namanya.
Tinjauan tentang teologi tersebut berpulang kepada diri pribadi atau individu masing-masing. Kita juga tidak perlu saling menyalahkan, karena sesungguhnya masing-masing dari kita memiliki andil dalam berbuat kesalahan.
Sebelum alam dan lingkungan ini benar-benar mengalami kehancuran, mari kita renungkan kembali pesan arif dari para pemerhati lingkungan sejak ratusan tahun lalu:
"Manakala sawah dan rawa tidak lagi berfungsi sebagai pengendali air, gunung dan bukit tidak lagi ditumbuhi pepohonan dan berubah dengan rumah-rumah beton dan kaca, maka sesungguhnya kita sedang menuju pada kehancuran lingkungan".
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
