Tidak Ada yang Baru di Tahun Baru
lampung@rilis.id
Bandarlampung
RILISID, Bandarlampung — TIDAK ada yang baru di Tahun Baru, semua sama saja. Matahari akan terbit dari ufuk Timur pada pagi hari dan tenggelam di ufuk Barat pada sore hari.
Hanya dalam legenda Sangkuriang dan Roro Jonggrang lah matahari terbit sebelum waktunya, karena berisik mendengar para wanita yang sedang menumbuk padi, sehingga sang matahari mengira bahwa hari sudah pagi.
Semua orang tentu berharap agar datangnya tahun baru 2022 yang hanya tinggal dalam hitungan hari ini akan membawa harapan baru bagi kehidupannya, dalam segala hal tentunya.
Namun harapan tersebut menjadi sirna ketika berbagai musibah datang silih berganti dan masih mengakrabi bangsa kita.
Musibah pandemi Covid-19 belum juga berakhir, kita dikejutkan oleh gempa dahsyat Gunung Semeru yang selama puluhan tahun adem ayem dan bersikap tenang.
Lahar dan awan panas serta pijaran batu telah memporakporandakan wilayah sekitar dan memakan korban jiwa.
Belum tuntas penanganan bencana Gunung Semeru, menyusul bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di mana-mana.
Bencana datang jalin-jemalin menimpa berbagai daerah di Indonesia dan memakan korban jiwa maupun harta yang cukup besar.
Untungnya, sebagian besar masyarakat tidak banyak menuntut pihak Pemerintah. Mereka lebih memilih pasrah dan meyakini bahwa semua ini terjadi karena kehendak Tuhan atau peringatan Illahi kepada umat manusia.
Hanya yang mereka sesalkan, mengapa pada hampir semua bencana alam atau bencana sosial, yang menjadi korban adalah kaum yang lemah dan miskin.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
