Sekolah Kopi, Mungkinkah Jadi Paket Wisata dan Embrio Kluster Ekonomi Baru?

lampung@rilis.id

lampung@rilis.id

Bandarlampung

27 Juli 2021 20:48 WIB
Perspektif | Rilis ID
Dr. Irmayani Noer, Dosen Prodi Agribisnis dan Magister Terapan Ketahanan Pangan, Polinela
Rilis ID
Dr. Irmayani Noer, Dosen Prodi Agribisnis dan Magister Terapan Ketahanan Pangan, Polinela

Lambar sangat mungkin mengembangkan paket wisata keren kekinian semacam “COFFEE TOURISM & ADVENTURE”.

Kita membayangkan Lambar-CTA akan mengemas secara terpadu agribisnis hulu hilir kopi dalam “satu paket wisata terpadu”.

Paket wisata terpadu tersebut berisi untaian aneka produk dan/atau destinasi wisata: mulai dari budidaya, panen, pasca panen, pemanfaatan limbah kopi, sampai pada industri hilir kopi (roasting, grinding, cupping, café, dll.).

Muatan utama yang perlu dibangun dalam paket wisata terpadu “Lambar-Coffee Tourism & Adventure” (sementara sebut saja begitu) adalah aspek edukasi, pengalaman, dan sensasi tentang perkopian secara utuh.

Wisatawan bisa mengamati dan menikmati perjalanan panjang dan berliku komoditas kopi mulai dari habitat tumbuhnya sampai ke gelas di meja mereka (from farm to table).

Tentu saja banyak sektor pembangunan lain yang kelak akan ikut terdorong maju jika paket wisata terpadu ini sukses dikembangkan, misalnya sektor ekonomi kreatif (kuliner, souvenir, seni pertunjukan), transportasi, perhotelan, dll.

Menjadi jelas bahwa mewujudkan paket wisata terpadu “Lambar-Coffee Tourism & Adventure” adalah pekerjaan yang cukup besar dan rumit. Oleh karena itu, untuk sukses menuju mimpi besar tersebut Pemkab Lambar perlu membangun partnership dengan mitra yang relevan untuk pengembangannya.

Program ini sebaiknya dikemas dalam bentuk blue print perencanaan yang lengkap dan informatif, sehingga rencana paket wisata terpadu yang (mungkin?) pertama di Indonesia ini layak didukung juga oleh APBD Provinsi dan APBN, atau bahkan menarik minat pihak investor swasta.

Untuk konsep perencanaan pengembangan yang lebih terarah dan komprehensif, ada peluang untuk menggunakan tenaga ahli (expert) pariwisata dari PUM Belanda. PUM (suatu lembaga nirlaba di Belanda – visit www.pum.nl) dapat mengirim tenaga expert (atas biaya PUM) untuk perencanaan pengembangan kluster pariwisata ini.

Selain itu, PUM juga bisa mengirim tenaga expert atau instruktur mereka (atas biaya PUM) untuk program training for trainer (TOT) di Sekolah Kopi tentang ke-barista-an (roasting, cupping, dll.). Melalui TOT ini, kualitas tenaga instruktur di Sekolah Kopi dapat secara bertahap ditingkatkan menuju standar internasional.

Menampilkan halaman 2 dari 3

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: lampung@rilis.id
Tag :

Kopi

Polinela

Unila

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya