Pesan Natal dari Wuhan

Juan Situmeang

Juan Situmeang

Mesuji

25 Desember 2021 07:00 WIB
Perspektif | Rilis ID
Ilustrasi: Pixabay
Rilis ID
Ilustrasi: Pixabay

Semua ini terjadi seolah ingin me-reset bumi seperti kisah Bahtera Noah. Mengembalikan ke kondisi ideal. Di mana semua diharapkan berjalan dengan baik. Orang-orang saling memperhatikan dan mengasihi satu sama lain.

Seperti Lukas katakan, “Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian"(Lukas 3:11). 

Bahkan lebih jauh Yesus sendiri katakan agar kita melihat yang lain setara bahkan sebagai bagian diri kita sendiri.

Seperti yang disampaikan-Nya sebagai hukum yang utama, yaitu kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:39).

Sikap inilah yang sudah hilang dewasa ini. Bahkan di dalam gereja. Ada sesuatu yang hilang. Justru yang utama. Kasih. 

Begitu juga dengan kesederhanaan seperti tergambar dalam palungan tempat bayi Yesus dibaringkan.

Kini sudah digantikan dengan selimut lembut nan tebal dan hangat. Kereta bayi yang mahal. Kandang domba berubah istana megah.

Domba-domba dengan bulu menggumpal-gumpal, oh, sudah tidak ditemukan. Karena bulu domba pun di-rebonding dan smoothing.

Natal hanya menjadi ajang pemuas diri. Membuat acara apa saja dibungkus seolah merayakan kelahiran Yesus.

Di gedung- gedung gereja yang megah. Di hotel-hotel nan mewah menghabiskan biaya ratusan juta sampai miliaran.

Menampilkan halaman 2 dari 4

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: gueade
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya