Di Balik Bencana Masih Ada Asa
lampung@rilis.id
RILISID, — SEMUA orang tentu berharap datangnya tahun baru 2019 akan membawa harapan baru bagi kehidupannya, dalam segala hal tentunya. Namun asa tersebut sirna ketika secara tiba-tiba bencana tsunami Selat Sunda menghantam kawasan pesisir di wilayah Lampung dan Provinsi Banten, hanya beberapa hari sebelum datangnya tahun baru 2019.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal mencapai 426 orang, korban luka 7.202 orang, dan lebih dari 50 ribu orang terpaksa mengungsi di beberapa tempat yang disiapkan Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan. Jumlah tersebut belum termasuk korban yang dinyatakan hilang. Adapun jumlah rumah yang hancur mencapai puluhan ribu unit.
Di sinilah rasa dilematis seorang manusia dimulai. Siapapun akan merasa miris melihat kondisi ribuan manusia yang harus tidur di tempat pengungsian. Bayi mungil yang kedinginan dalam pelukan ibunya dan para usia manula yang duduk termangu dengan tatapan mata kosong.
Sungguh tragedi yang amat memilukan. Belum tuntas penanganan bencana gempa bumi yang terjadi di Lombok, disusul kemudian dengan bencana tsunami di Palu, Sulawesi Selatan, kini giliran Lampung dan Banten yang kesemuanya memakan korban jiwa dan materi.
Bencana terjadi jalin-jemalin dan silih berganti menimpa berbagai daerah di Indonesia. Untungnya, Pemerintah Provinsi Lampung maupun Provinsi Banten cukup sigap dalam menangani bencana tsunami, meski datang secara tiba-tiba tanpa ada peringatan dini.
Masyarakat pun tidak banyak menuntut karena mendapat pelayanan yang cukup memadai, baik masalah tempat pengungsian maupun kebutuhan makan dan kesehatan. Mereka pun lebih memilih pasrah dan meyakini bahwa semua ini terjadi karena murkanya Tuhan atau peringatan Illahi kepada umat manusia.
Hanya yang mereka sesalkan, mengapa pada hampir semua bencana alam atau bencana sosial, yang menjadi korban adalah kaum yang lemah dan miskin. Bukankah pada kenyataan sehari-hari mereka tergolong makhluk yang paling suci, nrimo, tidak pernah korupsi, dan perilaku curang lainnya.
Teori apapun, termasuk teoritisasi sastra-sosial yang percaya kepada marxisme tidak akan mampu menjelaskan mengapa mereka yang harus secara terus menerus menjadi pelengkap penderita? Meski yang mereka miliki menjadi luluh lantak di terjang bencana, namun tetap tegar.
Mereka sangat percaya pada filsafat Cakra Manggilingan, yakni mengibaratkan hidup ini seperti putaran roda, kadang berada di bawah dan kadang di atas. Meski hanya sebagai aliran filsafat, namun terbukti sangat ampuh dan mampu memberi kekuatan batin, membangkitkan semangat dan harapan bahwa pada suatu saat roda akan berputar ke atas. Pada titik inilah apa yang disebut ”baru” sungguh terjadi dalam pengalaman mental yang dimiliki kaum lemah dan kaum miskin.
Agar harapan baru itu benar-benar terjadi dalam pengalaman mental, kita pun perlu melakukan refleksi dan juga mawas diri. Seyogyanya kita melakukan sujud syukur ketika memasuki detik-detik pergantian tahun, duduk dalam keheningan untuk melihat dengan jernih seraya mengharap bimbingan Tuhan dalam memasuki pergantian tahun.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
