Berharap Semua Suka? Percuma!

lampung@rilis.id

lampung@rilis.id

22 Desember 2020 06:00 WIB
Perspektif | Rilis ID
Oleh: Wasril Purnawan (Kabag Tata Usaha Kanwil Kemenag Lampung)
Rilis ID
Oleh: Wasril Purnawan (Kabag Tata Usaha Kanwil Kemenag Lampung)

Alih-alih ngotot membela diri –sesuatu yang melelahkan- saya mengajak tim untuk belajar mengabaikan ala Gus Dur: ”begitu saja kok repot!”.

Belum genap seminggu dalam misi ini, masih ada beberapa minggu ke depan, dengan medan yang jauh lebih sulit dan membutuhkan kesabaran tingkat dewa.

Kalau tidak mulai membiasakan dengan jurus Gus Dur ini, khawatir misi mulia itu akan terasa menyesakkan. Rumus gampangnya, selama urusannya dengan manusia, risiko terbesarnya adalah disalahpahami. Hanya Tuhan yang tak pernah salah paham. Se sederhana itu resepnya.

Jauh tujuh abad yang lampau, Ibnu Atha’illah Al-Sakandari penulis Al-Hikam kitab tasawuf yang menjadi rujukan utama tarekat Al-Syadziliyah telah mengingatkan, manusia itu lagi baiknya saja masih dianggap salah, apalagi kalau salah.

”Maka, jangan pernah berharap semua manusia ridha, karena itu sesuatu yang mustahil!” begitu petuah Imam As-Syafi’i.

Menjadi waras model ini butuh upaya dan tapa. Tak jarang justru hasrat membela diri yang kerap muncul. Alih-alih terus fokus melakukan hal-hal benar yang diyakini, malah sibuk menjaga citra agar selalu dipandang baik.

Celakanya, tak sedikit yang terjebak pada politik pencitraan. Seolah semua kebaikan harus dimaklumatkan. Tak jarang, sesuatu yang sepatutnya menjadi area privat -cukup kita dan Tuhan saja yang tahu- juga ikut diumbar. Rasanya nggak marem, kalau nggak semua orang tahu. Dan media sosial ikut menyuburkan prilaku itu.

Betapa sering status WhatsApp, postingan Facebook dan akun medsos lainnya cuma menjadi ajang penelanjangan area privat yang seharusnya dijaga. Bahkan, tak kalah bahayanya, jejak kebaikan yang semula telah tercatat rapi karena dilakukan dalam senyap tanpa pamrih seketika rontok. Luruh terhapus dari catatan amal kerena tak cermat menjaga jari.

Di era disrupsi ini, jari sebagaimana mulut adalah dua atribut yang harus senantiasa  diperiksa. Melalaikannya berarti rela terjerambab dalam kebangkrutan.

Tentang ini, ada baiknya kita belajar dari kearifan masa lalu. Karena praktik pamer tentu adalah masalah klasik yang sudah ada sejak zaman dahulu. Cuma bedanya tidak semudah dan se-massif zaman medsos ini.

Menampilkan halaman 2 dari 3

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya