Apa yang Kita Wariskan?
lampung@rilis.id
Bahkan beberapa hari belakangan saya tak tidur hingga larut malam gara-gara ketagihan memamah makna dari tulisan sepasang penganten muda yang bernas lagi jenaka. Kadang mrebes melow dan tak jarang ngakak-ngakak sampai mengeluarkan air mata. Betapa peristiwa biasa disulap penuh makna, bahkan trauma dibuat tawa agar tak larut dalam nestapa.
Dalam bentuk yang lain, ingatan saya melesat jauh ke salah satu peloksok Nusa Tenggara Barat. Senior saya semasa di pondok dahulu rela meninggalkan zona nyaman ibu kota dan posisi strategis di kantor pusat salah satu kementerian. Memilih pulang kampung demi mewujudkan mimpi merintis madrasah. Mirip seperti junior saya yang lain yang juga meninggalkan madrasah top tempat ia mendapatkan seabrek fasilitas demi merintis pondok dari nol di peloksok desa di Kabupaten Serang.
Babat alas. Mulai dari pembelian lahan, pembangunan secara perlahan hingga menghadirkan santri di tengah belantara yang belum menjanjikan apa-apa. Membangun trust di tengah masyarakat hingga menuai simpati dan dukungan dari banyak pihak.
Dinding Facebook dijadikannya sarana untuk meraih dukungan netizen sekaligus tempat pertanggungjawaban. Setiap donasi dari para dermawan dilaporkan melalui progres pembangunan yang rutin diposting di akun medsosnya.
Setiap unggahannya tentang lika-liku merintis pondok, menyiratkan wajah kebahagiaan yang paripurna. Pada saat yang sama, saya justru tercekat tanpa kata, tak kunjung mampu menjawab. Apa yang dapat saya lakukan sebagaimana dia dan mereka?
Teringat ucapan salah seorang penulis buku best seller saat singgah di kediaman saya: ”ini bukan soal latah, ikut-ikutan membuat lembaga pendidikan. Ini tentang apa yang dapat kita sumbangkan untuk generasi setelah kita”.
Wow…amazing…
Desember ini, mengingatkan saya akan sosok Gus Dur. Bapak bangsa yang jejak perjuangan kemanusiaannya tak terbantahkan. Saya berkali-kali hanyut basah dalam cerita-cerita tentang konsistensinya, kesahajaannya bahkan kontoversinya.
”Tak ada yang patut dipertahankan mati-matian demi tidak tumpahnya darah antar sesama anak bangsa,” demikian alasan beliau meninggalkan istana.
Sang pemberani, tak gentar untuk tetap konsisten memperjuangkan nilai yang diyakini, kendati taruhannya adalah pemakzulannya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
