Apa yang Kita Wariskan?

lampung@rilis.id

lampung@rilis.id

21 Desember 2020 16:57 WIB
Perspektif | Rilis ID
Oleh: Wasril Purnawan (Kabag Tata Usaha Kanwil Kementerian Agama Lampung)
Rilis ID
Oleh: Wasril Purnawan (Kabag Tata Usaha Kanwil Kementerian Agama Lampung)

RILISID, — Dalam sebuah prosesi pemakaman salah satu tokoh pendidikan, saya terlibat obrolan dengan sesama pelayat. Kebetulan kami sama-sama mengajar di perguruan tinggi yang didirikan almarhum. Hari itu kami hadir untuk melepasnya di peristirahatan terakhir.

"Saya ingin mengikuti jejak beliau," ujarnya sambil melepaskan pandangan ke jenazah yang tengah dimasukkan ke liang lahat.

”Betapa banyak kebaikan yang telah diwariskan melalui lembaga pendidikan rintisannya,” lanjutnya, seraya menarik lenganku mencari tempat duduk yang nyaman untuk melanjutkan obrolan.

Ia mengaku beruntung lantaran nasihat almarhum. Ia kini telah mulai merintis taman kanak-kanak walau di atas lahan hanya 400 m2. Berharap di kemudian hari dapat berkembang dan menjadi saksi tentang apa yang telah ia perbuat.

Meninggalkan sesuatu yang berharga untuk peri kehidupan sosial bukan privilege orang berkecukupan saja. Bahkan acap kali justru dilakukan orang yang mengalami beragam keterbatasan.

Seorang sahabat yang dikenal trengginas dengan kegigihan tingkat dewa, mencoba aneka usaha agar menjadi pahlawan keluarga demi menjamin anak dan isteri bahagia.

Tapi naas, selalu berakhir gulung tikar dan tak jarang menyisakan cicilan bank. Dengan nada seloroh rekan-rekannya mengatakan: ”gimana gak bangkrut, lha wong dari awal sudah meniatkan untuk sial!”

Kebetulan ia memang pernah mencoba membuka layanan konsultasi finansial, menjadi agen asuransi prudensial, dan membuka toko busana spesial. Benar saja, tiga-tiganya berakhir dengan kesialan. Wk...wk...wk...

Entah karena wangsit, atau jiwa korsa yang merasukinya karna lahir dan besar di sekitar kompleks Akmil Magelang, alih-alih putus asa ia mulai merintis pemberdayaan ekonomi warga berbasis musalla. Bermitra dengan seorang akademisi ultra-kreatif ia membangun pasar rakyat yang kelak dikenal dengan Pasar Yosomulyo Pelangi (Payungi).

Dalam ulang tahunnya yang kedua, Payungi mencatat telah melakukan 108 kali gelaran pasar rakyat dengan omzet menembus Rp3,5 miliar.

Menampilkan halaman 1 dari 4
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya