Alam, Manusia, dan Bencana
lampung@rilis.id
Lalu setelah alam menegur, kita berteriak, ”Selamatkan alam?”
Terlalu sombong kah kita, berteriak dengan lantang menyelamatkan alam. Padahal alam mampu memulihkan dirinya sendiri.
Malah kita yang terhempas oleh amarahnya.
Kita manusia hanya berupaya, membantu agar proses bisa lebih cepat, menjaga serta menghambat terjadinya kerusakan yang lebih parah.
Kitalah yang perlu diselamatkan, terutama moral dan pemahaman terkait lingkungan.
Sebagian dari kita mulai sadar pada kondisi lingkungan, memulai menanamkan kesadaran pada diri sendiri dan orang terdekat.
Sebagian pula mulai terlibat aktif pada gerakan-gerakan lingkungan.
Namun sebagian lagi masih eksis dalam ekploitasi alam secara besar-besaran.
Sampai hewan liar, pohon-pohon besar, sungai, rawa dan hutan alami yang memiliki peran penting pada kestabilan ekosistem mulai turun dari panggungnya.
Alam dipaksa mengalah untuk memenuhi kebutuhan umat manusia, sandang, pangan, dan papan.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
