Panen Raya
lampung@rilis.id
”Masih kukuh tidak mau bekerjasama dengan kami?”
Suparto tak menjawab.
Bagaimana hendak menjawab? Rahangnya sakit campur ngilu akibat tujuh kali pukulan siku. Seorang prajurit memasuki ruangan sambil menyodorkan dua cangkir teh hangat kepada Broto dan Suparto.
”Saya masih memberi kesempatan kepada Anda untuk berpikir. Apakah upaya-upaya represif kami untuk membuka mulut saudara masih perlu dilanjutkan?” ujar Broto seraya menyesap secangkir teh manis.
”Beritahu di mana ketua Anda bersembunyi maka kita akan melupakan segala hal yang telah terjadi.”
Melupakan semuanya? Sementara aku telah disiksa begitu kejam karena enggan membocorkan keberadaan ketua partaiku. Suparto tak habis fikir dengan ucapan Broto.
Keduanya terdiam. Angin malam mulai berkejaran melewati ventilasi ruangan itu.
”Saya ulangi lagi saudara Suparto. Di mana Anda menyembunyikan Ketua Partai Komunis? Saya akan merekomendasikan nama saudara dan keluarga agar dihapus dari keanggotaan Partai Komunis. Dengan begitu Anda dan keluarga tidak akan diganggu-gugat dan terbebas dari ancaman pembunuhan massal.”
Suparto terdiam. Ia termangu. Hati kecilnya tak sanggup membiarkan Kawan Ketua dikejar-kejar bagai hewan buruan. Namun di sisi lain ia pun harus memikirkan keselamatan diri dan keluarganya.
Lama ia melamun memikirkan pertengkaran antara cita-cita ideologis dengan mimpi-mimpi pragmatis. Siapakah di antara keduanya yang akan jadi pecundang?
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
