Panen Raya

lampung@rilis.id

lampung@rilis.id

16 Mei 2020 06:01 WIB
Budaya | Rilis ID
Cerpen Muhammad Harya Ramdhoni. ILUSTRASI: Pixabay
Rilis ID
Cerpen Muhammad Harya Ramdhoni. ILUSTRASI: Pixabay

Pada akhirnya perlawanan Suparto berakhir di ruang interogasi. Kuku-kuku yang dicabut paksa, meledakkan jerit tangis. Satu persatu serpihannya berjatuhan di lantai ruang interogasi. Tetes demi tetes darah bercampur dengan keringat dingin runtuh membasahi lantai.

Dua prajurit yang diperintah Broto untuk memberi pelajaran kepada Suparto benar-benar sudah kehilangan iba. Gagang pistol menghantam kening Suparto bertubi-tubi tanpa ampun. Disusul tendangan telak menghantam dada si komunis tua hingga terlempar dari kursi.

Pukulan dan tendangan kembali menghampiri Suparto tanpa ampun. Tujuh kali pukulan siku di rahang menimbulkan bunyi ”krek.” Rahang Suparto patah.

Tak berhenti sampai di situ popor senapan menghantam hidung dan telinganya. Darah membanjir mengotori kemejanya. Di depannya kolonel Broto nampak menikmati proses penyiksaan itu. Rasa puas mulai menjalari tubuhnya.

”Lelaki tua ini memang pantas dihajar karena menolak bekerjasama dengan tentara.”

Sebatang rokok disulutnya. Asap rokok beterbangan memutari ruangan mencari celah untuk ke luar tetapi jalan itu tak ada. Dinding ruang interogasi itu tanpa ventilasi. Hawa di ruang interogasi seluas 4 x 3 meter itu pun semakin pengap dan mesum.

Broto memberi perintah kepada kedua penyiksa membawa Suparto menuju kamar mandi. Suparto dipapah ke luar dalam kondisi menyedihkan. Kedua matanya lebam, sepuluh kukunya telah dicabut paksa, lima gigi atasnya tanggal, rahangnya patah, dan kepalanya bocor mengucurkan darah segar.

Diperkirakan dadanya remuk karena lusinan tendangan di dada. Kurang dari sejam yang lalu Suparto memasuki ruangan ini dalam kondisi segar bugar. Kini bahkan untuk berdiri ia mesti dipapah kedua penyiksanya. Siapa yang sanggup menahan siksaaan seperti ini?

Tanpa memberi kesempatan Suparto untuk mengeluh, kedua penyiksa menggantungnya dengan kedua kaki terikat pada sebuah pengungkit dengan posisi kepala di bawah. Bak mandi yang telah dialiri listrik siap menyambut kepala Suparto.

Pengungkit diturunkan dan terdengar suara jeritan terputus-putus. Separuh badannya ditenggelamkan ke dalam air beraliran listrik tersebut. Pengungkit dinaikkan kembali dan terlihat setengah tubuh Suparto pucat pasi. Ia masih sadar dan hanya bisa mengerang.

Menampilkan halaman 4 dari 12

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: gueade
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya