Panen Raya
lampung@rilis.id
Ia gigih membela kepercayaan pimpinannya. Suparto sadar bahwa ketua Komite Sentral Partai Komunis adalah perlambang keberadaan partai. Tertangkap atau terbunuhnya Kawan Ketua akan mengakibatkan kehancuran partai secara pasti. Gerak maju revolusi akan menjadi kontraproduktif tanpa kehadiran kawan ketua.
Keimanannya terhadap komunisme sebagai jawaban pamungkas seluruh permasalahan umat manusia memperkuat pembelaan itu.
”Kapitalisme akan menggali liang kuburnya sendiri sementara komunisme bersiap menggantikannya.” Begitulah argumentasi Suparto dalam berbagai kesempatan mendoktrin kader-kader partai yang lebih muda.
Menghadapi lelaki yang telah terideologis dengan baik membuat sang komandan Brigif IV memadukan cara-cara halus dan kekerasan. Rayuan dan ancaman digunakan untuk membuka mulut Suparto di ruang interogasi.
Suparto bersikeras bahwa Gerakan Satu Oktober bukanlah dosa Partai Komunis. Partainya sama sekali tidak terlibat dalam konspirasi pembunuhan jenderal-jenderal bernasib nahas itu. Penculikan itu adalah putsch yang terburu-buru. Ciri khas kaum kontra revolusioner.
Konflik internal sekelompok tentara goblok yang terpancing oleh keruhnya situasi. Gerombolan pengacau agen-agen imperialis Amerika dan Inggris sengaja menciptanya dengan dua tujuan utama: menggulingkan presiden Koesno dan menghancurkan Partai Komunis hingga tak bersisa.
Suparto menolak menyerahkan ketua partainya kepada pihak militer karena ia yakin Partai Komunis adalah korban teraniaya dari persekongkolan jahat ini. Sebagai kader unggulan Partai Komunis di Jawa Tengah, sudah menjadi hak dan kewajibannya membela dan melindungi Partai Komunis yang sedang berada di tepi keruntuhan.
Sikap Suparto membuat Broto muak. Sosok Suparto menjelma iblis yang tak tahu berterima kasih kepada Tuhan. Tawaran Broto akan mencoret nama Suparto dari daftar anggota Partai Komunis ditampik mentah-mentah. Padahal dengan begitu Suparto dan keluarganya dijamin selamat dari ancaman pembantaian yang akhir-akhir ini menimpa ribuan keluarga komunis. Sebuah pembunuhan massal terencana yang perlahan namun pasti memerahkan sungai dan tanah tempat mereka berpijak.
Sementara itu kepala Broto berputar-putar bagai gasing memikirkan langkah apa yang harus dilakukan untuk membuka mulut komunis tua berkepala batu ini.
”Mungkin kekerasan adalah jalan ke luar yang tepat!” pikirnya tiba-tiba. Di bawah keremangan cahaya lampu neon lima watt Broto memutuskan mengakhiri kesombongan si komunis tua dengan cara-cara paling sadis dan tak terbayangkan.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
