Rentan ‘Ladang Bisnis’, Pernusa: Kawal Penerimaan Mahasiswa Kedokteran Unila
lampung@rilis.id
Bandarlampung
RILISID, Bandarlampung — Penerimaan mahasiswa baru kedokteran Universitas Lampung (Unila), dinilai rentan menjadi ajang bisnis oleh oknum tertentu.
Bahkan, sudah pernah terjadi oknum pegawai Unila yang dituntut bersalah atas dugaan penipuan dengan modus menjanjikan bisa meloloskan calon mahasiswa tahun 2017 di Kedokteran Unila.
Penasehat Perjuangan Rakyat Nusantara (Pernusa) Provinsi Lampung, Resmen Kadafi mengatakan, penerimaan mahasiswa kedokteran Unila khususnya jalur mandiri berpotensi menjadi ladang bisnis oleh oknum-oknum tertentu. Sebab, biaya masuk jalur mandiri ini memiliki peminat yang tinggi dan biaya masuk yang besar.
"Masalah ini banyak luput dari perhatian publik. Sehingga perlu kita kritisi dan waspadai bersama, jangan sampai penarikan uang masuk mahasiswa baru kedokteran Unila ini utamanya jalur mandiri, dijadikan ajang bisnis. Jangan sampai ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan pribadi dari proses itu," ungkapnya.
Menurut Resmen, sudah pernah terjadi oknum pegawai Unila yang dituntut bersalah di Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkaran pada November 2018 lalu atas dugaan penipuan dengan modus menjanjikan bisa meloloskan calon mahasiswa melalui di Kedokteran Unila.
"Dalam persidangan itu terungkap terdakwa menyanggupi meloloskan calon mahasiswa kedokteran dengan syarat adanya mahar sebesar Rp 350 juta. Ini jangan sampai terulang," tegasnya.
Rektorat Unila, lanjutnya, perlu mengambil langkah-langkah konkret dan strategis untuk mencegah terjadinya jual beli kursi mahasiswa baru kedokteran Unila. Pertama harus meningkatkan transparansi seleksi penerimaan jalur mandiri. "Meski jalur mandiri, proses seleksinya tetap harus mengedepankan prinsif transparansi, akuntabilitas dan berkeadilan. Sebab bagaimana pun juga Unila ini lembaga publik, lembaga pemerintah," tegasnya.
Kedua, lanjutnya, Rektorat Unila perlu membuat aturan tentang standar biaya masuk bagi jalur mandiri dengan nilai yang besar atau memadai untuk kepentingan kemajuan kualitas dan saran prasarana Unila khususnya Faktultas Kedokteran sendiri.
"Buat saja aturan baku tentang biaya masuk jalur mandiri kedokteran, Perguruan Tinggi swasta saja berani pasang tarif tinggi dan peminatnya banyak. Saya yakin orang-orang lebih memilih Unila meski biaya masuknya lebih mahal, bisa dibuat Rp750 juta atau Rp1 Miliar tidak masalah untuk jalur mandiri, asalkan biayanya itu ditentukan dalam regulasi resmi, dikelola secara transparan, dan bisa dipertanggungjawabkan. Jangan menaikkan biaya masuk dibawah meja," cetusnya.
Menurutnya, biaya masuk jalur mandiri Fakultas Kedokteran Unila yang hanya berkisar Rp250 juta sampai Rp300 juta terlalu murah dan rawan dinaikkan secara ilegal oleh oknum-oknum tertentu.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
