Wujudkan SDM Unggul Melalui Bimtek Petani Milenial
Elvi R
Jakarta
Bimtek dibuka oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Tengah Drs. Supawan. Kadis selaku tuan rumah pelaksanaan Bimtek mengucapankan terima kasih kepada Puslitbangtan dan BPTP Bengkulu yang telah memberikan kepercayaan untuk melaksanakan kegiatan Bimtek di Kabupaten Bengkulu Tengah.
Ke depanya kerjasama pelaksanaan kegiatan seperti ini dapat lebih ditingkatkan lagi. “Selama ini kerjasama sudah banyak dilakukan dengan BPTP Bengkulu, yang terakhir adalah pelaksanaan pelatihan Pembuatan Pakan dari BPTP Bengkulu” ungkapnya.
Drs. Supawan mengharapkan agar peserta dapat mengikuti kegiatan bimtek secara maksimal karena narasumber yang menyampaikan langsung dari ahlinya, dapat mengaplikasikan teknologi largo super, tingkatkan produktivitas lahan perkebunan yang belum menghasilkan untuk menanam komoditas tanaman pangan dengan pendekatan inovasi.
“Diharapkan dari para petani milenial lebih maju lagi dalam pemanfaatan lahan, sehingga hasil yang diperoleh maksimal, karena adanya penerimaan perubahan teknologi oleh para petani milenial," kata Supawan.
Beberapa kisah sukses (success story) tentang Largo Super yang disampaikan oleh Dr. Agus dari beberapa daerah seperti di Jawa Barat, Yogyakarta, dan Kalimantan Selatan. Budidaya padi gogo bisa dilakukan di bawah tegakan tanam perkebunan baik yang belum maupun sudah menghasilkan. Seperti contoh penerapan teknologi Largo Super di bawah tegakan tanaman kelapa milik PT Swasta di Tanah Genteng, Kabupaten Sukabumi, luasanya awalnya 135 ha. Jarak tanam kelapa 9 m x 9 m. Komponen Teknologi yang diterapkan antara lain: olah tanah, penggunaan VUB padi gogo, alat Tabela, pupuk cair Biosinta, Biodekomposer, penggunaan bioprotector, pupuk hayati serta, penggunaan alat panen (combine harvester).
Hasil penelitian dan demplot yang dilakukan oleh Puslitbangtan di beberapa provinsi diperoleh hasil panen di Jabar tertinggi 5,8 ton per hektare kisarasn 3,4-5,8 ton per hektare. di Kalimantan Selatan produktivitas tertinggi 6,08 ton per hektare dengan rata-rata 4,4 ton per hektare sedangkan di Yogyakarta berkisar antara 5,8-7,3 ton per hektare Peningkatan produktivitas, IP meningkat (padi-padi-palawija) yang dilakukan denghan mengeser waktu olah lahan yang biasanya pada bulan basah menjadi pengolahan lahan yang dilakukan pada bulan kering.
“Pemanfaatan Teknologi Pertanian Era Revolusi Industri 4.0” merupakan materi pamungkas yang disampaikan oleh Kasie KSPP.
Dalam penyampaian materi, Dr. Shannora mengungkapkan bahwa ada 7 komoditas strategis yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian yaitu padi, bawang merah, cabai, gula, kedelai, daging sapi.
Produktivitas dapat ditingkatkan dengan revolusi industri yaitu sistem usaha pertanian yang dilakukan dengan menggunakan mesin, pertanian dengan cerdas (smart farming), modernisasi pertanian, peningkatan produksi (benih, alsitan, dll, optimaliasasi sumberdaya pangan lokal (teknologi pascapanen dan pengolahan).
Dr. Shannora juga menyampaikan pendampingan teknologi tidak selalui melalui Bimtek atau tatap muka. Para petani milenial harus mengoptimalkan androidnya untuk memperoleh informasi inovasi teknologi Balitbangtan yang sudah dilaunching dan bisa didownload. Aplikasi teknologi informasi pertanian menuju era industri 4.0 antara lain TAKESI, KATAM, My AGRI, dan lain sebagainya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
