Upaya Tingkatkan Produksi dengan Pembuahan di Luar Musim
Elvi R
Jakarta
RILISID, Jakarta — Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Fadjry Djufry menyampaikan bahwa sektor kakao di Indonesia sedang mengalami pertumbuhan signifikan, yang didukung oleh perkembangan partisipasi petani kecil. Sejak 25 tahun terakhir, biji kakao merupakan komoditas ekspor yang penting bagi Indonesia.
“Sementara itu, para petani di Indonesia memiliki kontribusi paling besar dalam produksi kakao Nasional. Saat ini, luas perkebunan kakao di Indonesia mencapai sekitar 1,5 juta hektar. Produksi kakao di Indonesia terletak di Sulawesi, Sumatera Utara, Jawa Barat, Papua, Kalimantan Timur, dan Sumatera Barat,” lanjut Fadjry.
Selanjutnya dari wilayah-wilayah tersebut, 75 persen produksi kakao Indonesia terletak di Sulawesi. Sejak 2009, pemerintah telah mencanangkan program 5 tahun revitalisasi kakao guna meningkatkan produksinya. Program ini terdiri dari intensifikasi, rehabilitasi, dan rejuvenasi yang mencakup total area 450 persen hektar.
Salah satu faktor yang menghambat perkembangan industri kakao adalah tanaman yang sudah tua (sudah ditanam sejak 1980-an), sarana dan prasarana yang kurang memadai serta perkebunan yang kurang terawat. Untuk itu, agar mencapai target pemerintah dalam meningkatkan produksi kakao, investasi pada sektor kakao harus ditingkatkan.
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) menawarkan beberapa alternatif teknologi pertanian untuk tingkatkan produksi kakao. Salah satunya dengan cara pembuahan kakao di luar musim.
Teknologi Pembuahan Kakao di Luar Musim
Teknik Sambung Samping
Teknik sambung samping kakao adalah teknik menyambung batang atas dari tanaman induk yang unggul dengan bartang bawah tanaman kakao yang memiliki produksi buah yang rendah. Teknik tersebut bertujuan untuk meningkatkan produksi buah dan meningkatkan ketahanan tanaman kakao terhadap penyakit.
Tanaman hasil sambung samping/pucuk tersebut dipangkas dengan cara seperti dalam pemangkasan bentuk tanaman belum menghasilkan. Pemangkasan yang dilakukan secara rutin juga berfungsi sebagai pangkasan sanitasi untuk menghilangkan sumber infeksi penyakit Vascular Streak Dieback (VSD).
Klon kakao dapat digunakan untuk bahan sambung samping dan memilki ketahanan terhadap penyakit VSD dan produksi tinggi adalah klon Sulawesi 1, Sulawesi 2, ICCRI 3, ICCRI 4 dan Sca6.
Aplikasi Pupuk Hayati (Pakuwon Bio Fertilizer)
Pakuwon Bio Fertilizer merupakan biofertilizer yang mengandung mikroba pemfiksasi N, pelarut hara P dan K, dengan kepadatan populasi 105-108 per gram dalam bahan pembawa yang sangat efektif untuk meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas pada tanaman.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
