Besok Hadir di Metro! Koffieswoning, Kedai Kopi Pelestari Literasi dan Budaya
lampung@rilis.id
Metro
“Dengan demikian cagar budaya tidak identik dengan bangunan tua yang lusuh melainkan berubah menjadi ruang publik yang dapat diakses berbagai kalangan,” jelasnya.
Terpisah, Kadis PKP Syachri Ramadhan memandang partisipasi berbagai kalangan dibutuhkan untuk mengembangan Rumah Informasi Sejarah (RIS) Metro serta cagar budaya lainya agar dapat menarik lebih banyak orang berkunjung ke Metro.
“Diperlukan kerjasama berbagai pihak termasuk OPD untuk bersama-sama mendukung pengembangan wisata sejarah dan cagar budaya yang ada di Kota Metro, baik melalui kebijakan maupun pengembangan infrastruktur,” ungkapnya.
Anggota TACB Metro Ika Pusparini Anindita berharap keberadaan cagar budaya ke depannya dapat menjadi salah satu daya tarik wisatawan datang ke Metro.
“Kota Metro sendiri tidak memiliki sumber daya alam tapi memiliki sejarah dan bangunan-bangunan cagar budaya yang berpotensi dikembangkan menjadi paket-paket wisata yang kreatif,” jelasnya.
Selain itu perkembangan cagar budaya juga menumbuhan kreativitas lokak seperti hadirnya produk lokal seperti buku, kopi, t-shirt, dan berbagai merchandise lainnya.
Menurutnya juga pertumbuhan wisata jalan kaki di Kota Metro adalah salah satu indikator bahwa Metro memiliki potensi dan prospek untuk mengembangkan wisata khusus dalam hal ini sejarah dan cagar budaya.
Kadisdikbud Kota Metro Suwandi mengatakan saat ini Wali Kota Metro juga telah membuat surat edaran ke seluruh sekolah untuk paling tidak dapat berkunjung satu kali dalam setahun ke bangunan-bangunan cagar budaya yang ada di Kota Metro.
“Dengan demikian keberadaan cagar budaya dapat juga diketahui oleh para siswa di metro sebagai upaya menanamkan kecintaan terhadap daerah sekaligus upaya mempromosikan wisata Kota Metro,” pungkasnya. (*)
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
