Rupiah Disebut Masih Bisa Recovery
Nailin In Saroh
Jakarta
RILISID, Jakarta — Ekonom Aviliani mengatakan, pelemahan rupiah di 2018 tidak bisa dianggap sebagai tanda-tanda krisis, seperti yang terjadi di 1998. Meskipun, ia menduga, depresiasi nilai tukar rupiah masih akan berlangsung lama, namun rupiah masih bisa recovery.
Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) ini pun menyebut, gejala tahun ini mirip seperti tahun 2008, di mana rupiah terus merangkak naik, tapi bisa recovery di 2009.
"Sejak akhir 2008, siklus krisis bisa setiap 2 atau 3 bulan, cuma problemnya adalah panik atau enggak. Kebanyakan krisis terjadi ketika orang panik, behavior berubah, maka perilaku dari individu menjadi perilaku agregat. Indonesia waktu 2009 rupiahnya tinggi, tapi cepat balik. Kenapa?" ujar Aviliani dalam diskusi di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (7/3/2018).
Menurutnya, ada beberapa faktor yang membuat kondisi pelemahan rupiah tidak sampai menimbulkan krisis di 2009. Pertama, peran bank sentral yang mem-backup bank-bank.
"Karena pengalaman pemerintah tahun 1998 itu bank krisis tutup maka bank-bank itu langsung di take over sama BI. Sehingga bank besar ditempatkan uang oleh pemerintah," jelas ekonom INDEF ini.
Ditambah, kepanikan masyarakat yang teredam. "Itu membuat orang ngambil uang tapi enggak masalah akibatnya 2008 orang ngerasa bank tidak kekurangan liquiditas maka ekonomi cepat recovery. Krisis November 2008, di 2009 kita udah bagus. Itu pemicunya kenapa kita enggak sampai krisis 2008," tambah Aviliani.
Kedua, ketika di Amerika-Eropa terjadi krisis, namun saat itu uang Indonesia sangat banyak waktu. Bahkan, rupiah menguat di bawah Rp10.000.
Ketiga, tahun 2009 hingga 2013 di tengah krisis harga komoditas dunia justru naik. "CPO naik, dan komoditas naik. Akibatnya ekspor kita naik, karena ekspor naik maka rupiah menguat," katanya.
"Tiga faktor ini membuat ekonomi kita cepet recovery plus kalau rupiah menguat biasanya orang Indonesia, jadi ada orang kaya baru (OKB) karena komoditas naik sehingga demand tinggi, pemicunya impor naik," sambungnya.
Jadi, kata Aviliani, ekonomi Indonesia tergantung pada demand. Jika komoditas naik, maka demand akan naik.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
