Dari PTPN VII Unit Kedaton untuk Ban Kelas Dunia

lampung@rilis.id

lampung@rilis.id

Bandarlampung

14 Agustus 2020 19:11 WIB
Bisnis | Rilis ID
Komisaris Utama PTPN VII Nurhidayat, Direktur Doni P.Gandamihardja, SEVP Operation I Fauzi Umar, SEVP Operation II  Dikcy Tjahyono dan jajaran saat kunjungan ke Pabrik Unit Kedaton, Lampung Selatan. Foto: Humas PTPN VII
Rilis ID
Komisaris Utama PTPN VII Nurhidayat, Direktur Doni P.Gandamihardja, SEVP Operation I Fauzi Umar, SEVP Operation II Dikcy Tjahyono dan jajaran saat kunjungan ke Pabrik Unit Kedaton, Lampung Selatan. Foto: Humas PTPN VII

Tentang bagaimana menghasilkan produk yang kualitasnya baik, Willy mengatakan semua tahapan memiliki andil. Ia menyebut, di kebun atau on farm, dari varietas atau klon karet sampai pupuk dan pasca sadapnya sangat penting. Jika setelah sadap terdapat ketidak murnian getah akibat kontaminasi, kata dia, sangat berpengaruh kepada hasil akhir.

Demikian juga dengan proses off farm atau pengolahan. Meskipun pengolahan karet menjadi bahan setengah jadi siap ekspor tidak membutuhkan teknologi tinggi, tetapi ketatnya tahapan sangat menentukan.

“Kami menempatkan tulisan berupa imbauan dan peringatan di banyak tempat, bahwa musuh utama olahan karet adalah kontaminan. Jadi, kalau sudah kena kontaminasi, apapun, akan rusak produknya,” kata dia.

Sebagai pimpinan, Willy mewanti-wanti semua tahapan dalam proses menghasilkan produk untuk mengikuti SOP, standard operation procedure, atau prosedure operasional standar. Secara rutin dan berkala, ia juga turun ke lapangan dan pabrik untuk memastikan produk yang dihasilkan berkualitas baik.

“Kami berupaya untuk bekerja dengan seksama dan menjaga kebersamaan. Sebab, mutu hasil kerja kami ini saling berkaitan. Ada satu tahap saja yang tidak sesuai SOP, akan berakibat fatal. Apalagi, orientasi penjualan produk kita adalah ekspor.”

Into Indrady, Asisten Teknik dan Pengolahan PTPN VII Unit Kedaton yang bertanggung jawab kepada seluruh proses olah mengatakan, untuk menjaga kekompakan tim harus dilakukan pendampingan secara lahir batin. Ia mengaku setiap hari mendampingi pekerjaan karyawan dengan sepenuh hati sampai selesai tugas.

“Kalau kita bekerja hanya berdasarkan jam kerja, ya nggak bakal bagus. Intinya, kerja sama itu harus bersama. Kalau kerja sama tetapi tidak sama-sama kerja, ya bohong. Sulit kita mencapai yang kita inginkan,” kata dia.(*)

Menampilkan halaman 2 dari 2
Prev

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Unknown
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya