PTKIN dan Perlawanan terhadap Gengsi Pendidikan
Fi fita
Bandar Lampung
Bagi kelompok ini, PTKIN bukan hanya sebagai institusi akademik, melainkan jembatan mobilitas sosial yang memungkinkan mimpi pendidikan tetap hidup tanpa harus mengorbankan keberlangsungan ekonomi keluarga.
Namun, dalam logika gengsi pendidikan yang telanjur mengakar, keterjangkauan sering justru dibaca sebagai kelemahan. Kampus yang mahal dianggap berkualitas, sementara kampus yang ramah biaya dicurigai mutunya.
Cara pandang semacam ini patut dikritik secara serius, karena mengaburkan hakikat pendidikan tinggi itu sendiri.
Pendidikan seharusnya memperluas kesempatan, bukan mempersempitnya melalui seleksi berbasis kemampuan ekonomi semata.
Ketika kualitas pendidikan selalu disandingkan dengan mahalnya biaya, megahnya gedung, dan citra eksklusivitas, sesungguhnya kita sedang menggeser pendidikan dari hak publik menjadi barang mewah.
Dalam situasi ini, pendidikan tidak lagi berfungsi sebagai alat pemerataan sosial, melainkan justru berpotensi mereproduksi ketimpangan.
Anak-anak dari keluarga mampu semakin mudah mengakses simbol prestise, sementara mereka yang berasal dari latar belakang sederhana dipaksa merasa “kurang layak” hanya karena pilihan kampusnya tidak berlabel gengsi.
PTKIN berdiri di posisi yang berbeda.
Komitmen pada keterjangkauan dan pemerataan, PTKIN mengingatkan bahwa kualitas pendidikan tidak semata ditentukan oleh harga, melainkan oleh proses pembelajaran, integritas akademik, dan orientasi nilai yang ditanamkan.
Terlebih, saat ini gedung dan fasilitas di semua PTKIN juga semakin lengkap dan tidak kalah dengan PTN umum.
Uin ril
universitas Islam Negeri lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
