Ternyata Faktor Ekonomi Penyebab Anak di Lampura Putus Sekolah
M. Riski Andresa
Lampung Utara
RILISID, Lampung Utara — Dampak dari faktor ekonomi, harus dirasakan oleh anak-anak dari keluarga kurang mampu yang seharusnya belajar di sekolah.
Akan tetapi, faktor itulah membuat keluarga kurang mampu tidak bisa membuat anaknya sekolah, meski pemerintah telah mencanangkan program sekolah gratis.
Seperti halnya dialami Tole warga Kelurahan Rejosari ini misalnya, dalam sehari-harinya ia bekerja sebagai buruh serabutan. Dengan terpaksa ia harus memberhentikan anaknya yang telah duduk di kelas 2 SMP.
"Mau bagaimana lagi, karena faktor ekonomi dan tidak mampu membelikan peralatan sekolah," ujar Tole, Selasa (16/1/2024).
Hal sama diakui Muhammad Agung juga harus merasakan pahitnya kebutuhan ekonomi keluarga. Ia juga harus berhenti sekolah karena faktor ekonomi orang tuanya.
"Tadinya saya sekolah kelas 1 SMK. Karena ekonomi, akhirnya putus tidak melanjutkan pendidikan," kata Agung.
Ia berharap, suatu saat nanti bisa melanjutkan sekolahnya kembali seperti teman-teman yang lainnya.
Terpisah Sekretaris Kabupaten (Sekian) Lampura Lekok mengaku sangat prihatin melihat banyaknya anak di Lampura yang tidak sekolah maupun putus sekolah.
"Kami tidak akan main-main dalam melakukan pendataan jumlah anak yang tidak sekolah maupun putus sekolah," kata Lekok.
Lekok juga menegaskan, apabila usai dilakukan rapat akbar dan masih ditemukan Desa dan Kelurahan yang tidak mengirimkan data anak tidak sekolah maupun putus sekolah, maka akan diberikan sanksi tegas.
Putus Sekolah
anak tidak sekolah
dinas pendidikan
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
