Pengalaman Ikut UKW Bak Permen Nano-Nano, Rame Rasanya!

Anton Suryadi

Anton Suryadi

Lampung Barat

14 Januari 2024 10:11 WIB
Pendidikan | Rilis ID
Peserta UKW ke-32 PWI Provinsi Lampung
Rilis ID
Peserta UKW ke-32 PWI Provinsi Lampung

RILISID, Lampung Barat — Pernahkah anda makan permen Nano-nano, yang dulu iklannya sering menghiasi dunia pertelevisian dan melekat dalam ingatan masyarakat Indonesia.

Seperti apa rasanya? Manis, asam, asin dan ramai rasanya.

Itulah yang dialami bersama 35 orang wartawan dari berbagai daerah di Provinsi Lampung, ketika mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) angkatan ke-32 yang diadakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Lampung bekerjasama dengan Kementerian BUMN di Hotel Emersia Bandar Lampung, (10-11/1/2024)  

Oya, UKW ke-32 PWI Lampung tersebut tanpa dipungut biaya alias gratis sejak di bawah kepemimpinan Ketua PWI Lampung H. Wirahadikusumah.

Ini merupakan upaya dan juga program prioritas PWI Lampung untuk meningkatkan kualitas SDM wartawan yang tergabung dalam organisasi kewartawanan terbesar di tanah air.

Program ini semakin terlihat hasilnya, setelah adanya peran dari Kementerian BUMN terhadap kemajuan Pers.

Seperti empat orang wartawan dari Kabupaten Lampung Barat, untuk mengikuti UKW ke Bandar Lampung harus memakan waktu selama kurang lebih 5 jam perjalanan dengan kendaraan pribadi. Bahkan bisa semakin lama kalau menggunakan kendaraan umum. 

Dalam perjalanan, saling diskusi mengenai ujian yang akan dihadapi dan saling bertukar pikiran. Pada intinya, punya beban yang sama dan khawatir tidak dinyatakan kompeten. 

Tiba di Bandar Lampung, semua menumpang istirahat di rumah salah satu keluarga peserta di daerah Natar, Kabupaten Lampung Selatan.

Pagi harinya baru bergegas menuju Kantor PWI Lampung di Jl.Jenderal Ahmad Yani, Palapa, Kec.Tanjung Karang Pusat, untuk mengikuti kegiatan Pra UKW.

Kegiatan ini diadakan dengan tujuan agar peserta UKW memiliki gambaran tentang materi apa saja yang akan jadi soal pada waktu ujian.

Hingga tibalah waktu yang menegangkan, pelaksanaan UKW. Sekitar pukul 6.30 WIB harus meluncur ke Hotel Emersia di Jalan Wolter Monginsidi Bandar Lampung, dan langsung melakukan registrasi peserta.

Didalam ruangan yang cukup luas, juga telah disediakan sejumlah meja dan kursi untuk penguji, peserta dan juga para wartawan yang akan meliput.

Terlihat semua peserta yang diharuskan memakai atasan putih dan bawahan warna hitam, sedang berbincang untuk sekedar meredam ketegangan yang berkecamuk dalam pikiran masing-masing.

Sesaat kemudian, suara Moderator Mbak Novi Balga membuyarkan obrolan peserta yang menyampaikan ujian akan dimulai pukul 08.00 WIB.

Setelah itu, Direktur Lembaga UKW Dr. Firdaus Komar yang juga mejabat sebagai Ketua PWI Provinsi Sumatera Selatan, menyampaikan tata tertib UKW serta membacakan pembagian kelas jenjang muda dan madya berikut nama penguji masing-masing kelas.

Total ada 6 kelas pada UKW kali ini, 4 kelas jenjang muda dan 2 Kelas madya. Saya tergabung dalam kelas Madya dengan penguji Bang Nizwar, beliau adalah seorang wartawan senior yang telah berpengalaman dalam kegiatan ini.

Sebagai penguji, Bang Niz (panggilan akrabnya) sangat disegani oleh peserta. Selain mumpuni dibidangnya, Bang Niz juga dikenal sebagai seorang penguji dan wartawan yang idealis.

Dalam setiap ujian, Bang Niz selalu menekankan peserta untuk memahami soal dan mampu menerapkan apa yang menjadi materi uji.

Setelah sesi perkenalan, Bang Niz meminta peserta untuk membuka soal pertama. Sebelum menjawab, kami diberikan masukan oleh penguji agar jawaban yang kami tulis sesuai dengan apa yang diminta dalam soal.

"Kawan-kawan tolong perhatikan soal, baca dan pahami dengan benar. Ini adalah jenjang madya, jawaban yang kalian tulis harus menunjukkan kualitas seorang wartawan madya, karena ini yang akan kalian terapkan saat menjadi redaktur nanti," ujar Bang Niz.

Usai memberikan masukan, penguji mempersilahkan kami untuk mulai mengerjakan soal. Saat peserta sibuk dengan soal ujian, penguji terus memperhatikan dengan seksama.

Karena dalam ujian jenjang madya, jawaban dari soal bukan satu-satunya faktor penilaian. Namun etika dan gerak-gerik peserta juga dinilai. Jika ada peserta yang berbisik dengan rekan disebelahnya, penguji akan mengingatkan.

"Mohon diperhatikan kawan-kawan, jangan mengganggu konsentrasi peserta yang lain. Fokus dengan tugas masing-masing, jangan mencontek jawaban orang lain. Karena nanti akan terlihat dalam jawaban. Setiap orang punya gaya dan karakter masing-masing dalam menjawab soal, bahasa yang digunakan juga pasti punya ciri tersendiri dari setiap orang," ucap Bang Niz.

Bekerja dibawah tekanan dengan waktu yang terbatas, membuat kami harus mampu mengendalikan emosi dan suasana hati.

Saya sendiri berusaha untuk tetap tenang dalam mengerjakan soal, hal itu memang sedikit membantu agar tidak kehilangan fokus. 

Demikian juga rekan yang lain, semua sibuk dan bergelut dengan masalahnya.

Saya melihat tidak ada raut muka peserta yang santai, semua nampak serius, tegang dan was-was.

Bahkan ada yang panik, karena waktu yang tinggal sedikit sedangkan soal masih banyak yang belum terjawab. Termasuk Saya!!

Lembaran soal pertama selesai, jawaban segera kami print ke petugas yang dengan setia melayani peserta.

Tiga petugas print dengan komputer masing-masing sibuk dengan peserta yang antri. Tidak sedikit jawaban peserta yang harus diperbaiki karena kurang lengkap, mulai dari nama yang belum ditulis, huruf yang salah dan lain sebagainya. 

Saya pun mengalami hal yang sama, salah kalimat, pengayaan jawaban yang kurang hingga lupa memberi nama juga terjadi. 

Jawaban selesai, kami lalu disibukan dengan kelengkapan berkas soal yang akan dikumpul ke penguji. Lembaran demi lembaran harus kami isi dengan teliti agar tidak terjadi kesalahan sebelum dikumpulkan.

Belum sempat menghela napas setelah soal pertama, penguji menginstruksikan peserta untuk mengerjakan soal yang kedua.

Benar-benar bekerja dibawah tekanan dengan waktu terbatas, inilah ujian yang sesungguhnya. Kami dituntut untuk fokus dengan hasil yang benar jika ingin dinilai layak dan kompeten.

Satu persatu lembar soal kami kerjakan, hingga jelang istirahat siang. Bahkan ketika tiba waktu makan siang, masih ada diantara peserta yang belum selesai dengan tugasnya. 

Suasana sedikit longgar ketika Gubernur Lampung Arinal Junaidi, hadir untuk memberikan sambutan dan apresiasi atas kegiatan UKW kali ini.

Gubernur berjanji memberikan reward berupa Umroh gratis bagi peserta UKW dengan predikat terbaik.

Hal itu menjadi pemacu dan motivasi tersendiri bagi kami seluruh peserta, lulus dengan predikat terbaik dan dapat hadiah umroh gratis tentu akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi peserta yang beruntung.

Acara sambutan Gubernur selesai, peserta dan penguji istirahat sejenak. Kesempatan itu dimanfaatkan peserta untuk saling bertukar cerita dengan yang lain.

Banyak pengalaman menarik yang dibahas, dari materi yang dianggap sulit, waktu yang sedikit, perbaikan jawaban hingga sakit kepala melanda.

"Rasanya seperti menghadapi sidang skripsi, adrenalin kita dipacu hingga ke level maksimal," ungkap seorang peserta.

Jam istirahat pun habis, peserta kembali kedalam ruangan ujian. Soal-soal dibagikan, penguji seperti sebelumnya memberikan instruksi dan masukan.

Namun suasana mulai sedikit tenang, psikologis peserta perlahan mulai bisa menerima situasi sehingga lebih tenang dan siap mengerjakan soal.

Pukul 17.30 WIB soal terakhir hari pertama telah dibagikan, beberapa kelas jenjang muda telah selesai, namun kelas kami masih bergelut dengan soal.

Beruntung Bang Niz sebagai penguji punya sifat sabar level tinggi, beliau terus memberi arahan kepada kami untuk menyelesaikan soal terakhir di hari itu. 

Lima belas menit kemudian, semua peserta telah mengumpulkan jawaban. Bang Niz memberikan masukan terakhir dan mengingatkan peserta untuk hadir tepat waktu dihari kedua besok.

"Besok hadir jam 8:00 WIB, kita langsung ke Modul 2.6 materi jejaring, siapkan daftar nama, yang telat tidak akan ditunggu," katanya mengingatkan.

Kamipun pulang ke penginapan masing-masing. Saya dengan 4 orang rekan dari Lampung Barat memilih untuk menginap disalah satu Hotel dengan harga yang terjangkau. Maklum, kondisi kantong sama-sama kurang bersahabat.

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Agus Pamintaher
Tag :

UKW

PWI

LAMPUNG

BUMN

Bandarlampung

Hotel Emersia

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya