Tingkatkan Produktifitas Pertanian, Kebun Agrowisata Menjadi Alternatif
lampung@rilis.id
Anca menyatakan petani di Wayratai telah memiliki pabrik mini pengelolaan cokelat, mulai pengelolaan mentah sampai jadi cokelat batang.
Keberhasilan ini menurutnya harus menjadi apresiasi tersendiri dan mampu mendorong daerah lain di wilayah Kabupaten Pesawaran mampu mereplikasi keberhasilan tersebut. Ia berharap keberhasilan ini bukan hanya untuk jangka pendek, tetapi juga panjang.
Pihaknya karena itu akan memfasilitasi pelatihan terhadap petani, mulai pembibitan, pemeliharaan, sampai pascapanen. Inovasi petani juga sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas serta mampu memanfaatkan lahan secara optimal sesuai kondisi tempat usahanya.
Terakhir, Anca berjanji memfasilitasi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk meningkatkan kapasitas dalam menangani permasalahan pertanian.
“PPL harus memiliki kemampuan dalam menanggapi permasalahan lapangan, mereka merupakan orang yang bersinggungan langsung dengan petani sehingga perlu kemampuan yang mumpuni,” ungkapnya.
Sedangkan, profesor Irwan berpendapat pertanian merupakan salah satu sektor yang mampu survive di tengah pandemi dibandingkan sektor lain. Ia mengambil contoh panen yang dilakukan agrowisata Unila baru-baru ini.
Hanya dengan lahan 0,8 hektare mampu menghasilkan 25 ton melon. Melon kemudian dijual Rp10 ribu per kilogram dan mampu menghasilkan pendapatan Rp250 juta.
”Dalam tempo 75-100 hari panen, mampu meraup untung sebesar itu dapat mengalahkan pendapatan orang-orang yang bekerja di kantoran,” kata Irwan.
Potensi ini harusnya menjadi peluang besar bukan hanya petani yang telah lama berkecimpung di dunia pertanian. Tetapi juga generasi milenial.
Berdasarkan data Pertanian Pesawaran, data panen untuk lahan padi sawah mampu menghasilkan 5,11 ton per ha dan untuk jagung 5,52 ton per ha. Menurutnya, hasil ini masih berada di bawah rata-rata panen nasional yang mencapai 5,5 ton per ha.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
