Usung Lima Petahana, PDIP Disebut Main Aman di Pilkada Serentak Lampung
Wirahadikusumah
Bandarlampung
”Untuk apa mencalonkan seorang kader yang elektabilitasnya rendah? Karenaya, pilihannya adalah mengusung petahana tadi,” ucapnya.
Seperti Bandarlampung, terus dia, sebelumnya ada tarik-menarik cukup lama. Antara mempertimbangkan tokoh Lampung yang dekat dengan ketua umum dan kader yang potensial akan menang. Dan berasal dari ”dinastinya” petahana.
Kemungkinan, lanjut dia, di Pilkada Bandarlampung, PDI Perjuangan mempertimbangkan memilih mengusung Eva Dwiana-Dedy Amarullah lantaran ingin memenangkan kontestasi.
Sebab, Pilkada Bandarlampung adalah barometer politik Lampung ke depan. Untuk menang di Pilgub maupun di Pileg dan Pilpres. Dan paslon Eva Dwiana-Dedy Amarullah memiliki peluang untuk menang.
”Pastinya, Bandarlampung adalah kota yang strategis untuk maju ke pilgub. Dan PDI Perjuangan tentu memikirkan itu. Sehingga memilih paslon yang dikalkulasinya memiliki peluang akan menang dalam pilwakot,” nilainya.
Dan, kata dia, itu memang ada dalam teori politik. Yakni berlaku rasional dengan memaksimalkan keuntungan sehingga dihitung benar kalkulasinya. Dari kalulasi itulah, muncul paslon yang akan diusung. Sebab, politik itu masalah kalkulasi. Langka parpol memperjuangkan orang yang beretika, atau berintegritas, bermoral, atau lainnya.
”Kita tidak akan menemukan itu 10 sampai 20 tahun ke depan. Tentu parpol akan melihat mana yang lebih menguntungkan bagi mereka. Dan pasti ada hubungannya dengan tawar menawar dan kalkulasi tadi,” paparnya.
Budkur juga menilai, rekom PDI Perjuangan akan mempengaruhi arah dukungan ddari parpol lainnya. Sebab, ada kecenderungan partai politik kini merapat ke kandang banteng.
Contohnya Gerindra yang menurutnya sedang bulan madu dengan PDI Perjuangan. Paslon yang didukung PDI Perjuangan, Partai Gerindra juga memiliki kecenderungan mendukung.
”Kalau Partai Golkar mesranya di level nasional. Di level daerah belum tentu. Karena partai ini local strong man-nya kuat. Makanya di pusat dan daerah sering berbeda. Seperti Bandarlampung yang menurut saya menarik untuk disimak, karena Partai Golkar tidak seiya dan sekata dengan PDI Perjuangan,” katanya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
