Soal Tudingan Jenderal Kardus Rp500 Miliar, Roy Suryo: Memang Ada 'Sesuatu'
Anonymous
Jakarta
RILISID, Jakarta — Wakil Ketua Umum Demokrat Roy Suryo membenarkan, apa yang dikatakan wakil Sekretaris Jenderal Partai Andi Arief bahwa Sandiaga Uno membayar Rp500 miliar untuk mendapatkan dukungan dari PAN dan PKS. Ia mengatakan, hal itu lah yang kemudian membuat pembicaraan antara Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Prabowo menjadi alot tadi malam.
"Saya kira sudah tahu ya apa yang dikemukakan wasekjen kami Andi Airef bahwa memang terjadi sesuatu. Ada yang katakan hoaks biarkanlah nanti hukum yang bicara, fakta yang bicara karena Mas Andi Arief saya kira punya dasar melakukan," kata Roy di Mega Kuningan, Jakarta, Jumat (10/8/2018).
Menurut Roy, pihaknya kecewa sebab secara tiba-tiba saja Prabowo bersama PAN dan PKS menyodorka nama Sandiaga Uno. Padahal dikatakan Roy, nama Sandiaga tidak pernah masuk dalam sejumlah calon wakil Presiden pilihan mereka.
"Yang jelas kami sudah menjalin komunikasi sebulan terakhir yang baik dengan Gerindra khususnya dengan Prabowo tetapi yang kami khusus satu kamar saja tetapi tiba tiba ada informasi di seberang melakukan komunikasi dengan banyak kamar. Itu kan tidak pas, tidak elok. Etika berpolitik yang diajarkan SBY itu mengajarkan kita clear," tegasnya.
Meski begitu, Roy menyebutkan dalam waktu dekat partainya akan memberi keputusan arah koalisi mereka. Ia menegaskan bahwa partainya tetap ikut serta dalam Pilpres 2019.
"Soal trauma pasti ada tapi tidak untuk berlama-lama. Kita biasa move on," tegasnya.
Sebelumnya, Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, secara resmi mendeklarasikan dirinya sebagai capres, menggandeng Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menjadi cawapresnya.
"Sandiaga mundur dari jabatan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Saya pun meminta beliau mundur dari Gerindra," kata Prabowo saat deklarasi di Kartanegara Jakarta pada Kamis (8/8/2018) malam.
"Saya ingin berjuang dan mengabdi untuk bangsa Indonesia. Insya Allah besok kami akan daftar ke KPU sesudah Salat Jumat di Masjid Istiqlal," tambah dia.
Proses politik ini, kata dia, tidaklah mudah. Ia kerap berkomunikasi dan berunding dengan para tokoh dan elite parpol-parpol. Seperti, PKS, PAN dan Demokrat.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
