Sistem Pemilu Proporsional Terbuka dan Tertutup, Untung Mana?
Sulaiman
Bandarlampung
Selain itu, apabila menggunakan sistem tertutup, persaingannya hanya di internal partai. Sedangkan kalau terbuka lebih banyak money politik, walaupun sulit dibuktikan, karena belum ada survei.
Kemudian lanjut Budiyono. Ketika menggunakan sistem tertutup, para Caleg akan berkampanye tentang visi-misi partai. Sedangkan kalau terbuka hanya menyampaikan visi misi diri sendiri, sehingga loyalitas partai rentan.
"Saya lebih setuju tertutup, tapi apabila partai kita dalam 'keadaan sehat'," katanya.
Meskipun begitu, dalam sistem tertutup, dominan ketua partai politik sangat menentukan, sehingga perlu ada pengendalian, agar tidak terjadi monopoli ketua Parpol.
Menurutnya Partai Golkar, pernah ada pedoman dalam nenentukan calon yakni prestasi, dedikasi, loyalitas, dan tidak tercela (PDLT). Apabila hal ini dipegang, itu sangat baik dalam menentukan calon.
"Jadi untung rugi banyak, masing ada kelebihan, tapi terbuka kelebihannya masyarakat tau yang dipilih," ujarnya.
Pandangan Akademisi Hukum Unila Budiyono dapat didengar lebih lengkap dalam program Wira Corner di kanal YouTube Rilisid TV.
Lihat video:
Sistem Pemilu
Proporsional Tebuka dan Tertutup
Pemilu 2024
Wira Corner
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
