Rusak, Jika Demokrasi Terus Dibayangi Korporasi
Anonymous
Bandarlampung
RILISID, Bandarlampung — Tidak bisa dipungkiri, buruknya demokrasi di Indonesia, karena begitu leluasanya korporasi masuk pada ranah politik. Ditambah lagi dengan, relugasi yang tidak mengatur secara ketat, batasan sumbangan bagi parpol dan perseorangan di kancah pilkada.
Dan terbukti, kualitas Pilgub Lampung 27 Juni lalu, tercederai. Demo politik uang makin intens. Sementara kerja kongkrit Bawaslu dan Gakkumdu, belum juga final. Ini jelas menjadi pembelajaran semua komponen.
”Dominasi politik uangnya kentara. Dan kemungkinan, dilakukan semua pasangan calon. Bisa jadi, kondisi ini pun akan berlaku pada Pileg dan Pilpres 2019,” terang Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu, DPW PAN Lampung, Gunawan Raka, Kamis (5/7/2018).
Wajar, sambung Gunawan, di tengah problem yang muncul, ketertarikan anak muda untuk masuk pada partai politik kian terkikis. Anak muda yang identik dengan semangat menggebu-gebu dan idealisme tinggi, sudah terlanjur menganggap politik itu kotor.
”Daripada masuk ke dunia politik, kebanyakan dari kita tentu akan memilih bekerja di korporasi yang diyakini mampu menjamin masa depan,” terang pria yang berprofesi sebagai advokat itu.
Kalaupun ada, sebagian dari anak muda yang dengan idealismenya ingin memperbaiki keadaan, pada akhirnya lebih memilih mundur secara teratur ketika dihadapkan pada risiko-risiko yang harus dihadapi.
”Apalagi jika menentang arus. Maka akan habis dia. Dan inilah kondisinya sekarang. Dan PAN memiliki kewajiban merubah mindset itu dan tak bosan membangun semangat,” ujar Gunawan yang ditemui Rilislampung.id di kediamannya Jalan Pulau Buru, Gang Pulau Pisang, Wayhalim Permai, Bandarlampung.
PAN sendiri menilai, apabila seluruh anak-anak muda yang cerdas dan memiliki idealisme enggan berkiprah di dunia politik. Kondisi pembangunan akan semakin buruk.
”Apa yang akan terjadi? Jika seluruh anak muda yang cerdas dan memiliki idealisme meninggalkan politik. Tentunya dunia politik akan diisi oleh orang-orang dengan kemampuan seadanya dan parahnya tanpa idealisme,” papar Gunawan.
Pendapat senada diutarakan Akademisi Universitas Lampung, Maruli Hendra Utama. Kondisi Lampung, Surabaya dan daerah lain, siklus politiknya hampir sama.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
