Rusak, Jika Demokrasi Terus Dibayangi Korporasi
Anonymous
Bandarlampung
”Politik nasional kita dipenuhi oleh orang-orang yang seringkali bukan orang terbaik di bidangnya. Tapi bisa duduk pada posisi tertentu. Padahal instan,” tegas dosen sosiologi dan ilmu politik itu.
Ini akibat persepsi negatif yang terlanjur tertanam dalam benak masyarakat dan kebobrokan politik serta pemerintahan yang sudah berlangsung lama.
”Jadi wajar jika muncul skeptisme. Kebanyakan dari kita sudah lelah berteriak namun diabaikan pemerintah apalagi parpol,” tandas mantan aktivis 90-an itu.
Disinggung soal korporasi yang mengakar pada ranah politik. Maruli hanya tersenyum tipis.
”Kelemahannya kan sudah Anda tahu. UU-nya yang mengatur begitu lemah. Nah dari daripada menunggu pemerintah berbuat, sebagian dari kita harus berinisiatif, tampil membuat gerakan,” ucapnya.
Tidak ada yang salah dari mencari solusi, jika didasari dari buruknya hasil demokrasi.
”Terus mau dibiarkan? Akan rusak, jika demokrasi terus dibayangi korporasi,” pungkasnya. (*)
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
