Pengamat: Kebohongan Ratna Sarumpaet Bukanlah Konspirasi
Anonymous
Jakarta
RILISID, Jakarta — Fitnah dalam politik sangat berbahaya karena begitu kebohongannya terbuka bisa menimbulkan pembunuhan karakter. Begitu kata analis politik Teguh Yuwono.
Kebohongan Ratna Sarumpaet (RS) terkait dengan penganiayaan dirinya, menurutnya bukanlah sebuah konspirasi. Bukan juga untuk menjatuhkan pasangan Jokowi-Ma'ruf atau Prabowo-Sandiaga.
"Namun, ini lebih pada kapasitas tingkat rendah untuk seorang aktivis itu," kata dia seperti dilansir Antara pada Kamis (4/10/2018).
Meskipun, di satu sisi kebohongan Ratna ini punya dampak negatif bagi Prabowo. Seolah menunjukkan bahwa orang-orang di lingkaran pasangan nomor urut 02 ini tak kredible.
Tidak dapat dipercaya dan cenderung menyerang tanpa basis fakta. Kata dia, inilah yang nanti akan membuat perlawanan Prabowo terhadap Jokowi semakin berat.
"Adanya pengakuan Ratna kemarin membuat kepercayaan terhadap tim Prabowo-Sandiaga malah menurun. Sebaliknya, meningkatkan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf," ungkap dia.
Teguh merasa kasihan terhadap Prabowo jika orang-orang pembuat kabar bohong terus mengelilinginya.
Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan pihaknya merupakan korban kebohongan Ratna Sarumpaet, bukan pencipta hoaks.
"Menurut saya, kami adalah korban kebohongan Ratna Sarumpaet, jadi tentu kami serahkan sepenuhnya proses sosial dan proses politik maupun hukum terkait dengan Ratna Sarumpaet," kata dia.
Terkait dengan saran Koalisi Indonesia Kerja (KIK) yang ingin menjadikan tanggal 3 Oktober sebagai Hari Antihoaks Nasional setelah adanya kasus Ratna, menurut dia, harus dipahami secara mendalam.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
