Menakar Kekuatan Kandidat Wali Kota Bandarlampung
Sulaiman
Bandarlampung
Menurutnya, jadi incumbent lebih diunggulkan, kecuali ada gempa politik yang berkembang. Misalnya Eva Dwiana ditangkap KPK, bisa jadi incumbent kalah.
Bila diukur dari kinerja pun, meski terjadi ketidakberesan seperti gaji honorer dan lain-lain, tapi hal ini tidak mampu dikapitalisasi oleh lawan.
Bahkan yang mengetahui informasi itu tidak banyak, hanya pada yang terdampak dan elit. Sementara di kalangan bawah mungkin tidak perduli.
"Kalau saya konsultan lawan Eva, itu akan saya kapitalisasi di media sosial, dan akan mengangkat kekurangan incumbent. Selama ini mereka tidak melakukan itu," paparnya.
Sementara sosok Rahmat Mirzani Djausal dengan jabatannya sebagai ketua gerindra Lampung tentu punya peluang yang kuat. Ini apabila dia benar-benar memanfaatkan jabatannya saat ini.
"Saya mengamati politik lokal di Lampung dan baru mengetahui sedikit informasi tentangnya, apalagi orang-orang di bawah?" ujar dosen FISIP Unila yang saat ini masih mengenyam pendidikan S3 di Amerika.
Kemudian Wiyadi, merupakan sosok politisi yang tergantung dengan partai. Artinya dia tidak memiliki personal branding yang kuat.
Sedangkan yang menjadi masalah, PDIP di Bandarlampung tidak begitu kuat. Hal ini dapat dilihat pada Pemilu 2019 yang menang di Bandarlampung adalah Prabowo.
"Beda dengan Eva Dwiana yang memang ketokohannya dibangun saat zaman Herman HN. Ketokohannya bisa menandingi partainya," katanya.
Logikanya lanjut Budi, Eva Dwiana bila tidak diusung PDIP, partai lain pasti melamarnya. Mengingat Eva Dwiana incumbent dan memiliki basis.
Calon Wali Kota
Bandarlampung
Pilkada 2024
Eva Dwiana
Wiyadi
Yuhadi
Rahmat Mirzani Djausal
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
