Belum Dukung Prabowo, PKS-PAN Sedang Mainkan Drama Politik?
Zulhamdi Yahmin
Jakarta
RILISID, Jakarta — Peneliti Pusat Penelitian Politik, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wasisto Raharjo Jati, menyebut, partai politik koalisi pendukung Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto terlalu banyak membuat drama.
Apalagi, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bisa keluar dari koalisi bila kadernya tak dipilih menjadi cawapres Prabowo. Sementara Partai Amanat Nasional (PAN), hingga kini juga belum memastikan dukungannya terhadap mantan Danjen Kopassus tersebut.
"Mestinya harus konsisten dengan pilihan dong," kata Wasisto kepada rilis.id, Senin (6/8/2018).
Tak hanya soal parpol-parpolnya yang belum solid, ujar Wasisto, koalisi Prabowo juga memanfaatkan hasil ijtimak ulama untuk memperkuat posisinya. Menurutnya, hasil ijtimak ulama itu juga digunakan untuk menarik parpol lain agar bergabung dalam koalisi tersebut.
"Itu kan sama saja integritas dan komitmen partai ini kan dipertanyakan," ujarnya.
Meski PKS dan PAN belum resmi mendukung, jelas Wasisto, namun kedua parpol tersebut sulit keluar dari koalisi Prabowo itu. Apalagi, sampai ingin membuat poros baru.
"Untuk bikin poros baru saat ini sudah sempit waktunya karena selain masa pendaftaran yang perlu segera dipenuhi, juga masalah lobi-lobi politik yang menguras tenaga," jelasnya.
Dia mengungkapkan, pembentukan poros baru juga sulit lantaran presidential threshold 20 persen yang harus dipenuhi bila PKS dan PAN membuka opsi tersebut. Apalagi, menurutnya, sulit bagi parpol pendukung Joko Widodo, di antaranya PKB atau PPP untuk keluar dari koalisi tersebut.
"Semua parpol sudah mengidentifikasi diri mana kawan dan lawan dalam pemilu nanti. Selain itu mereka juga diikat oleh etika politis yang menyarankan untuk tetap konsisten dan loyal dalam berpolik karna ini menyangkut kredibilitas," tandasnya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
